Rabu, 05 November 2008

tranportasi informasi melalui kebel serat optik

Transportasi melalui kabel serat optik
Kombinasi Serat Optik dan Layanan SMS
HAMPIR tiga bulan setelah gelombang tsunami menghancurkan wilayah pantai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, meninggalkan reruntuhan dan debu di mana-mana. Provinsi NAD ini tidak hanya menjadi tempat ribuan orang tewas dan secara masif terkubur, tetapi juga menjadi tempat para pengungsi yang diistilahkan sebagai internally displaced people perlu bangkit kembali memulihkan kondisi mereka memasuki era rekonstruksi dan rehabilitasi pascatsunami.
MENGHADAPI berbagai persoalan yang akan dihadapi pada proses selanjutnya, baik pemerintah maupun LSM berpikir keras agar pekerjaan kemanusiaan mereka di Aceh memasuki tahapan ini bisa mencapai kapasitasnya yang maksimal. Dan sebelum memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi ini, sebuah prasyarat kritis menjadi pertimbangan penting sebelum memulai pekerjaan kemanusiaan di Aceh.
Sebuah operasi kemanusiaan memerlukan sebuah pemikiran tentang siapa sedang mengerjakan apa, bagaimana membantu para internally displaced people (IDP) ini, jenis pasokan apa yang perlu didistribusikan, dan bagaimana bantuan ini harus menuju. Tanpa bisa mengidentifikasi semua ini, bukan saja akan menyebabkan terjadinya kekacauan dan kemungkinan terjadi tumpang tindih dan menyebabkan munculnya celah- celah, tetapi juga bisa berarti bahwa akan ada berbagai badan kemanusiaan yang bekerja dengan maksud yang sama padahal masih ada bidang-bidang yang dibutuhkan masih tidak terjamah sama sekali.
Meski demikian, dengan sumber-sumber informasi yang tidak tersedia dan bekerja sebagai relawan di wilayah konflik militer, mengirim orang- orang pulang pergi untuk mengumpulkan data menjadi sebuah pekerjaan yang melelahkan dan sering kali menjadi mustahil. Persoalan pun menjadi bertambah buruk ketika jalan-jalan dan berbagai jembatan yang menghubungkan antarkota di Aceh belum sepenuhnya diperbaiki sehingga menihilkan pilihan untuk mengirimkan relawan untuk mengumpulkan data lapangan memanfaatkan transportasi darat. Satu-satunya jalan yang memungkinkan adalah menggunakan transportasi udara.
Namun, pada kenyataannya, persoalan-persoalan ini ternyata terus berputar-putar tanpa ujung yang jelas, dan meyakinkan kita bahwa sesuatu harus dilakukan untuk mempermudah operasi kemanusiaan di tanah Aceh ini.
MENGHADAPI persoalan ini kita menyadari betapa pentingnya peranan teknologi informasi untuk mengatasi hambatan fisik seperti yang dijelaskan di atas. Dengan menggelar berbagai perangkat teknologi informasi, baik itu berupa koneksi nirkabel, komputer, dan berbagai perangkat lainnya di berbagai kamp IDP yang tersebar, para relawan yang mengumpulkan data tidak perlu mondar-mandir ke kantor untuk menyerahkan data-data yang dicari.

Melalui teknologi komunikasi informasi, mereka berada pada satu tempat pengumpulan data dan bekerja secara nyaman di tempat-tempat yang memiliki akses internet. Tanpa tersedianya fasilitas-fasilitas teknologi seperti ini, upaya kemanusiaan yang sekarang berlangsung di Aceh mungkin tidak akan menjadi efektif seperti yang kita saksikan sekarang.
Sebagai tambahan untuk mengimplementasikan upaya bantuan kemanusiaan berbasis teknologi informasi, Pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk memasukkan teknologi komunikasi informasi ke dalam perencanaan komprehensinya untuk membangun kembali Provinsi NAD. Walaupun teknologi informasi menjadi sangat berguna pada masa darurat sebulan pertama setelah tsunami, ada banyak orang kemungkinan akan bertanya intensitas penggunaan infrastruktur teknologi ke dalam perencanaan tersebut, akan berfungsi secara maksimal dan efisien seperti pada masa darurat.
Ada keraguan kalau penduduk Aceh dengan tingkat pendidikan yang ada dan kegiatan ekonomi pascatsunami, ada yang beranggapan bahwa aplikasi penggunaan teknologi informasi tidak akan banyak manfaatnya sehingga belum tentu investasi peralatan teknologi informasi dalam jumlah yang besar donasi berbagai pihak akan siap memasuki proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
Memang bagi sebagian orang, fitur-fitur teknologi yang akan digelar di seluruh wilayah Aceh ini tidak akan banyak bermanfaat, terutama ketika kita menyadari bahwa investasi teknologi informasi melalui donasi tersebut bernilai jutaan dollar AS. Meski demikian, perlu dipertimbangkan bahwa sebuah perencanaan komprehensif artinya juga menjadi sebuah perencanaan permanen di mana akan muncul berbagai fitur yang akan mendukung sebuah komunitas yang ideal pascatsunami.
Fitur-fitur ini, lengkap dengan berbagai peraturan yang berlaku untuk wilayahnya, seperti perumahan, wilayah perdagangan, dan industri, perlu membangun jalan, sistem saluran, gedung-gedung pemerintahan, tempat parkir, transportasi massa, sekolah, dan bahkan juga menyediakan tempat-tempat terbuka untuk pembangunan masa depan. Dan teknologi informasi menduduki posisi yang sama pentingnya dengan berbagai prasarana ini sehingga kita pun beranggapan bahwa kalau memang teknologi komunikasi informasi ini menjadi sesuatu yang praktis sehingga bisa dimasukkan ke dalam perencanaan komprehensif, betapa mahal biaya yang dikandungnya, kenapa tidak digelar untuk dimanfaatkan potensinya secara penuh?
MEMASUKKAN teknologi informasi ke dalam perencanaan komprehensif berarti mempercepat proses rekonstruksi, memperpendek waktu pelaksanaan dibandingkan dengan yang direncanakan. Melalui teknologi informasi, cara berkomunikasi yang efektif seperti melalui e-mail secara langsung dan memanfaatkan sistem jaringan nirkabel dari tempat orang-orang bekerja, memungkinkan mereka untuk bekerja secara efisien dan mengakses berbagai sumber di dunia yang dibutuhkan untuk upaya rekonstruksi tersebut.
Selain itu, kemungkinan lain yang disediakan oleh teknologi informasi adalah mengurangi biaya operasional, termasuk di antaranya biaya bepergian yang dilakukan oleh para pekerja ke media center terdekat agar mereka bisa menyelesaikan pekerjaan mereka.

Bersamaan dengan penggelaran perangkat nirkabel di Aceh, infrastruktur teknologi komunikasi informasi yang akan digelar adalah rencana pemasangan jaringan serat optik yang akan terhubungkan dengan gateway serat optik internasional SEA-ME-WE 3 di Medan yang langsung terkoneksi ke Lhok Seumawe, Banda Aceh, Calang, dan sampai ke kota pantai Meulaboh. Jaringan SEA-ME-WE 3 sendiri sekarang ini terhubungkan dari Australia sampai daratan Eropa.
Daripada memasang sistem serat optik teresterial (menggunakan kabel darat), sistem serat optik bawah laut ini menjadi solusi terbaik untuk menghindari terjadinya perselisihan hak milik tanah yang dilalui kabel darat di masa depan.
DARI berbagai pembicaraan dengan banyak pihak, jelas bahwa informasi yang dikumpulkan di daerah pascabencana tsunami menjadi sangat penting sebagai landasan untuk mengambil tindakan. Dan pada proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini berbagai informasi dibutuhkan secara cepat, tepat, dan akurat. Tidak tersedianya data yang akurat menjadi salah satu kendala yang cukup krusial dan dirasakan semua pihak pada masa darurat selama tiga bulan terakhir ini.
Dengan demikian, keterlibatan semua pihak juga ikut menentukan keberhasilan untuk memasuki dan menyelesaikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini. Fasilitas telekomunikasi dan informasi di seluruh wilayah bencana tsunami sekarang masih terbatas, untuk menggelar sistem jaringan baru jelas akan menambah biaya tersendiri. Belum lagi masalah fungsi kontrol atas distribusi bantuan yang mengalir dari berbagai pihak di dalam dan luar negeri.
Salah satu yang ditawarkan relawan Tim Airputih untuk menyediakan layanan informasi tersebut adalah komunikasi berbasis layanan pesan singkat (SMS) dan didukung oleh seluruh operator GSM.
Layanan SMS Premium ini akan menggunakan kode akses 9731, tetapi tidak dikenai biaya premium. Artinya, setiap informasi yang dikirimkan ke nomor ini hanya akan dikenai biaya pengiriman SMS biasa sebesar Rp 250-Rp 350, bukan biaya premium pada umumnya yang biasanya Rp 1.000-Rp 2.000.
Melalui layanan SMS ini, pemerintah, lembaga-lembaga yang terlibat dalam penanganan bencana di Aceh, maupun masyarakat dapat saling berbagi informasi mengenai berbagai hal, seperti kondisi di kamp IDP, kebutuhan logistik, sampai informasi-informasi berupa penyelewengan penyaluran bantuan.

Protus Tanuhandaru Lulusan University of California Jurusan Electrical Engineering

Edwardo Rusfid Ketua Yayasan Airput
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0503/28/tekno/1645391.htm

Tidak ada komentar: