Internet
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Visualisasi dari beberapa route pada jaringan Internet
Tekhnologi Internet
Secara harfiah, internet (kependekan daripada perkataan 'interconnected-networking') ialah rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian. Manakala Internet (huruf 'I' besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet. Cara menghubungkan rangkaian dengan kaedah ini dinamakan internetworking.Daftar isi [sembunyikan]
1 Kemunculan Internet
2 Internet pada saat ini
3 Budaya Internet
4 Tata tertib Internet
5 Isu moral dan undang-undang
6 Akses Internet
7 Penggunaan Internet di tempat umum
8 Tokoh Tokoh Internet Dunia
9 Lihat pula
10 Pranala luar
[sunting]
Kemunculan Internet
Rangkaian pusat yang membentuk Internet diawali pada tahun 1969 sebagai ARPANET, yang dibangun oleh ARPA (United States Department of Defense Advanced Research Projects Agency). Beberapa penyelidikan awal yang disumbang oleh ARPANET termasuk kaedah rangkaian tanpa-pusat (decentralised network), teori queueing, dan kaedah pertukaran paket (packet switching).
Pada 1 Januari 1983, ARPANET menukar protokol rangkaian pusatnya, dari NCP ke TCP/IP. Ini merupakan awal dari Internet yang kita kenal hari ini.
Pada sekitar 1990-an, Internet telah berkembang dan menyambungkan kebanyakan pengguna jaringan-jaringan komputer yang ada.
[sunting]
Internet pada saat ini
Representasi grafis dari jaringan WWW (hanya 0.0001% saja)
Internet dijaga oleh perjanjian bi- atau multilateral dan spesifikasi teknikal (protokol yang menerangkan tentang perpindahan data antara rangkaian). Protokol-protokol ini dibentuk berdasarkan perbincangan Internet Engineering Task Force (IETF), yang terbuka kepada umum. Badan ini mengeluarkan dokumen yang dikenali sebagai RFC (Request for Comments). Sebagian dari RFC dijadikan Standar Internet (Internet Standard), oleh Badan Arsitektur Internet (Internet Architecture Board - IAB). Protokol-protokol internet yang sering digunakan adalah seperti, IP, TCP, UDP, DNS, PPP, SLIP, ICMP, POP3, IMAP, SMTP, HTTP, HTTPS, SSH, Telnet, FTP, LDAP, dan SSL.
Beberapa layanan populer di internet yang menggunakan protokol di atas, ialah email/surat elektronik, Usenet, Newsgroup, perkongsian file (File Sharing), WWW (World Wide Web), Gopher, akses sesi (Session Access), WAIS, finger, IRC, MUD, dan MUSH. Di antara semua ini, email/surat elektronik dan World Wide Web lebih kerap digunakan, dan lebih banyak servis yang dibangun berdasarkannya, seperti milis (Mailing List) dan Weblog. Internet memungkinkan adanya servis terkini (Real-time service), seperti web radio, dan webcast, yang dapat diakses di seluruh dunia. Selain itu melalui internet dimungkinkan untuk berkonikasi secara langsung antara dua pengguna atau lebih melalui program pengirim pesan instan seperti Camfrog, Pidgin (Gaim), Trilian, Kopete, Yahoo! Messenger, MSN Messenger dan Windows Live Messenger.
Beberapa servis Internet populer yang berdasarkan sistem Tertutup(?)(Proprietary System), adalah seperti IRC, ICQ, AIM, CDDB, dan Gnutella.
[sunting]
Budaya Internet
Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang, telah mewujudkan budaya internet. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari seperti Google, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses internet yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran(decentralization) / pengetahuan (knowledge) informasi dan data secara ekstrim.
Perkembangan Internet juga telah mempengaruhi perkembangan ekonomi. Berbagai transaksi jual beli yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan cara tatap muka (dan sebagian sangat kecil melalui pos atau telepon), kini sangat mudah dan sering dilakukan melalui Internet. Transaksi melalui Internet ini dikenal dengan nama e-commerce.
Terkait dengan pemerintahan, Internet juga memicu tumbuhnya transparansi pelaksanaan pemerintahan melalui e-government.
[sunting]
Tata tertib Internet
Sama seperti halnya sebuah komunitas, Internet juga mempunyai tata tertib tertentu, yang dikenal dengan nama Nettiquette.
[sunting]
Isu moral dan undang-undang
Terdapat kebimbangan masyarakat tentang Internet yang berpuncak pada beberapa bahan kontroversi di dalamnya. Pelanggaran hak cipta, pornografi, pencurian identitas, dan ucapan benci (?) (Hate speech), adalah biasa dan sulit dijaga. Hingga tahun 2007, Indonesia masih belum memiliki Cyberlaw, padahal draft akademis RUU Cyberlaw sudah dibahas sejak tahun 2000 oleh Ditjen Postel dan Deperindag. UU yang masih ada kaitannya dengan teknologi informasi dan telekomunikasi adalah UU Telekomunikasi tahun 1999.
Internet juga disalahkan oleh sebagian orang karena dianggap menjadi sebab kematian. Brandon Vedas meninggal dunia akibat pemakaian narkotik yang melampaui batas dengan teman-teman chatting IRCnya memberi semangat. Shawn Woolley bunuh diri karena ketagihan dengan permainan online, Everquest. Brandes ditikam bunuh, dan dimakan oleh Armin Meiwes setelah menjawab iklan dalam internet.
[sunting]
Akses Internet
Negara dengan akses internet yang terbaik termasuk Korea Selatan (50% daripada penduduknya mempunyai akses jalurlebar - Broadband), dan Swedia. Terdapat dua bentuk akses internet yang umum, yaitu dial-up, dan jalurlebar. Di Indonesia, seperti negara berkembang dimana akses Internet dan penetrasi PC masih juga rendahlainnya sekitar 42% dari akses Internet melalui fasilitas Public Internet aksss seperti warnet , cybercafe, hotspot dll. Tempat umum lainnya yang sering dipakai untuk akses internet adalah di kampus dan dikantor.
Disamping menggunakan PC (Personal Computer), kita juga bisa mengakses Internet melalui Handphone (HP) menggunakan Fasilitas yang disebut GPRS (General Packet Radio Service). GPRS merupakan salah satu standar komunikasi wireless (nirkabel) yang memiliki kecepatan koneksi 115 kbps dan mendukung aplikasi yang lebih luas (grafis dan multimedia). Teknologi GPRS dapat diakses yang mendukung fasilitas tersebut. Pen-setting-an GPRS pada ponsel Tergantung dari operator (Simpati, Indosat, XL, 3) yang digunakan. Biaya akses Internet dihitung melalui besarnya kapasitas (per-kilobite) yang didownload.
[sunting]
Penggunaan Internet di tempat umum
Internet juga semakin banyak digunakan di tempat umum. Beberapa tempat umum yang menyediakan layanan internet termasuk perpustakaan, dan internet cafe/warnet (juga disebut Cyber Cafe). Terdapat juga tempat awam yang menyediakan pusat akses internet, seperti Internet Kiosk, Public access Terminal, dan Telepon web.
Terdapat juga toko-toko yang menyediakan akses wi-fi, seperti Wifi-cafe. Pengguna hanya perlu membawa laptop (notebook), atau PDA, yang mempunyai kemampuan wifi untuk mendapatkan akses internet.
[sunting]
Tokoh Tokoh Internet Dunia
http://id.wikipedia.org/wiki/Internet
Timothy Barners Lee pencipta WWW (World Wide Web)
Roy Tomlinson pencipta @ (at) pada alamat e-mail
Rabu, 05 November 2008
serat optik
Pada dasarnya, sistem komunikasi serat optik terdiri dari tiga bagian: pemancar (transmitter), saluran komunikasi, dan penerima (receiver). Transmitter (yang terdiri dari dioda laser dan LED) berfungsi mengubah sinyal elektronik ke dalam bentuk gelombang cahaya dan memasukkannya ke dalam serat optik. Dibandingkan kabel tembaga, sebatang kabel serat optik memiliki bandwidth lebih banyak (sampai dengan 1 Terabit/detik atau 1012 bit/detik), material loss yang rendah, tidak menghasilkan electromagnetik noise, dan juga tidak terpengaruhi oleh gelombang elektromagnetik dari luar (electromagnetic interference). Dilihat dari segi bandwidth, serat optik jelas jauh lebih unggul daripada kabel tembaga atau nirkabel/satelit. Penerima (photodetector) berfungsi mengubah sinyal cahaya kembali ke dalam bentuk elektronik. Alat-alat opto-elektronik yang dipakai dalam sistem serat optik sebagian besar terbuat daripada bahan semikonduktor, khususnya senyawa yang terbentuk dari unsur-unsur golongan III (seperti Ga) dan golongan V (seperti As). Senyawa-senyawa yang terbentuk dari elemen-elemen golongan III-V mempunyai bandgap langsung yang memudahkan transisi elektron dari band konduksi ke band valensi dengan menghasilkan photon pada prosesnya. Akhir-akhir ini, kemajuan dalam ilmu nanoteknologi, khususnya di bidang eksperimen, telah memungkinkan para ilmuwan untuk membuat struktur dalam skala nanometer.
Untuk pembuatan semikonduktor kristal yang bermutu tinggi, beberapa hal yang harus dipenuhi adalah: tersedianya single kristal tanpa cacat, kemampuan untuk mengontrol ketebalan lapisan tipis (film) sampai dengan skala nanometer, dan kemampuan untuk dapat membentuk satu jenis bahan (contohnya GaN) di atas jenis bahan lainnya (contohnya AlN) dengan komposisi yang akurat serta transisi yang mulus dalam skala atom (atomically-abrupt interface). Saat ini teknologi yang umumnya dipakai untuk pembuatan discrete devices yang memerlukan kontrol dalam skala nanometer (seperti dioda laser) adalah Metal-Organic Vapor Phase Deposition (MOVPE). Pada intinya, unsur-unsur golongan III (seperti Al, Ga, In) dalam bentuk senyawa alkil (trimetil-aluminium/TMAl, TMGa, TMIn) yang dibawa oleh gas hydrogen dan elemen-elemen golongan V dalam bentuk hydride (gas-gas paling berbahaya seperti AsH3) dimasukkan ke dalam silinder quartz di dalam reaktor MOVPE dengan aliran yang dikontrol oleh komputer. Pada suhu sekitar 6000° - 8000° C, reaksi kimia terjadi diatas semikonduktor substrate/film sehingga lapisan semikonduktor, dengan material dan komposisi yang ditentukan oleh jenis dan aliran gas, terbentuk diatas substrate. Jenis reaksi adalah irreversible pyrolysis yang melibatkan serentetan reaksi-reaksi intermediate sampai pada akhirnya senyawa akhir terbentuk. Contohnya, untuk pembentukan GaAs film diatas GaAs substrate, reaksi dasarnya adalah:
Ga(CH3)3(l) + AsH3(g) + H 2(g) -> GaAs(s) + 3(CH4)(g) + H2(g)
Untuk sistem serat optik, jenis material yang biasa dingunakan adalah In1-xGaxAsyP1-y yang dibentuk diatas InP film karena material ini dapat menghasilkan gelombang cahaya 1.55-?m karena pada gelombang ini serat silika mempunyai loss yang paling rendah. Dengan mengatur aliran gas ke dalam reaktor, komposisi x dan y dapat diatur secara akurat.
Dalam skala nanometer (<10nm), efek-efek quantum mekanika menjadi dominan, sehingga memungkinkan kita untuk membuat alat-alat elektronik yang lebih superior dalam segi harga dan kegunaan. Sekarang, para ilmuwan sedang berlomba-lomba untuk membuat alat quantum yang terkecil dengan memperkecil jumlah dimensi dari dua dimensi (quantum well) menjadi satu (quantum wire) dan nol dimensi (quantum dot). Dilihat dari banyaknya penemuan-penemuan dasawarsa terakhir (carbon nanotubes, photonic bandgap materials, biophotonics, dsb), potensi riset di bidang nanoteknologi untuk meningkatkan mutu aplikasi yang telah ada serta melahirkan jenis aplikasi-aplikasi baru masih terbuka luas. Di bidang komunikasi, riset nanoteknologi dibidang fiber optik telah didorong oleh naiknya kebutuhan akan bandwidth oleh karena informasi teknologi yang dipelopori oleh internet. Oleh karena itu, bandwidth sendiri sering diumpakan seperti obat-obat terlarang: semakin sering kita memakainya semakin kecanduan kita jadinya.
http://www.arsip.banten.go.id/?link=dtl&id=133
Untuk pembuatan semikonduktor kristal yang bermutu tinggi, beberapa hal yang harus dipenuhi adalah: tersedianya single kristal tanpa cacat, kemampuan untuk mengontrol ketebalan lapisan tipis (film) sampai dengan skala nanometer, dan kemampuan untuk dapat membentuk satu jenis bahan (contohnya GaN) di atas jenis bahan lainnya (contohnya AlN) dengan komposisi yang akurat serta transisi yang mulus dalam skala atom (atomically-abrupt interface). Saat ini teknologi yang umumnya dipakai untuk pembuatan discrete devices yang memerlukan kontrol dalam skala nanometer (seperti dioda laser) adalah Metal-Organic Vapor Phase Deposition (MOVPE). Pada intinya, unsur-unsur golongan III (seperti Al, Ga, In) dalam bentuk senyawa alkil (trimetil-aluminium/TMAl, TMGa, TMIn) yang dibawa oleh gas hydrogen dan elemen-elemen golongan V dalam bentuk hydride (gas-gas paling berbahaya seperti AsH3) dimasukkan ke dalam silinder quartz di dalam reaktor MOVPE dengan aliran yang dikontrol oleh komputer. Pada suhu sekitar 6000° - 8000° C, reaksi kimia terjadi diatas semikonduktor substrate/film sehingga lapisan semikonduktor, dengan material dan komposisi yang ditentukan oleh jenis dan aliran gas, terbentuk diatas substrate. Jenis reaksi adalah irreversible pyrolysis yang melibatkan serentetan reaksi-reaksi intermediate sampai pada akhirnya senyawa akhir terbentuk. Contohnya, untuk pembentukan GaAs film diatas GaAs substrate, reaksi dasarnya adalah:
Ga(CH3)3(l) + AsH3(g) + H 2(g) -> GaAs(s) + 3(CH4)(g) + H2(g)
Untuk sistem serat optik, jenis material yang biasa dingunakan adalah In1-xGaxAsyP1-y yang dibentuk diatas InP film karena material ini dapat menghasilkan gelombang cahaya 1.55-?m karena pada gelombang ini serat silika mempunyai loss yang paling rendah. Dengan mengatur aliran gas ke dalam reaktor, komposisi x dan y dapat diatur secara akurat.
Dalam skala nanometer (<10nm), efek-efek quantum mekanika menjadi dominan, sehingga memungkinkan kita untuk membuat alat-alat elektronik yang lebih superior dalam segi harga dan kegunaan. Sekarang, para ilmuwan sedang berlomba-lomba untuk membuat alat quantum yang terkecil dengan memperkecil jumlah dimensi dari dua dimensi (quantum well) menjadi satu (quantum wire) dan nol dimensi (quantum dot). Dilihat dari banyaknya penemuan-penemuan dasawarsa terakhir (carbon nanotubes, photonic bandgap materials, biophotonics, dsb), potensi riset di bidang nanoteknologi untuk meningkatkan mutu aplikasi yang telah ada serta melahirkan jenis aplikasi-aplikasi baru masih terbuka luas. Di bidang komunikasi, riset nanoteknologi dibidang fiber optik telah didorong oleh naiknya kebutuhan akan bandwidth oleh karena informasi teknologi yang dipelopori oleh internet. Oleh karena itu, bandwidth sendiri sering diumpakan seperti obat-obat terlarang: semakin sering kita memakainya semakin kecanduan kita jadinya.
http://www.arsip.banten.go.id/?link=dtl&id=133
tranportasi informasi melalui kebel serat optik
Transportasi melalui kabel serat optik
Kombinasi Serat Optik dan Layanan SMS
HAMPIR tiga bulan setelah gelombang tsunami menghancurkan wilayah pantai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, meninggalkan reruntuhan dan debu di mana-mana. Provinsi NAD ini tidak hanya menjadi tempat ribuan orang tewas dan secara masif terkubur, tetapi juga menjadi tempat para pengungsi yang diistilahkan sebagai internally displaced people perlu bangkit kembali memulihkan kondisi mereka memasuki era rekonstruksi dan rehabilitasi pascatsunami.
MENGHADAPI berbagai persoalan yang akan dihadapi pada proses selanjutnya, baik pemerintah maupun LSM berpikir keras agar pekerjaan kemanusiaan mereka di Aceh memasuki tahapan ini bisa mencapai kapasitasnya yang maksimal. Dan sebelum memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi ini, sebuah prasyarat kritis menjadi pertimbangan penting sebelum memulai pekerjaan kemanusiaan di Aceh.
Sebuah operasi kemanusiaan memerlukan sebuah pemikiran tentang siapa sedang mengerjakan apa, bagaimana membantu para internally displaced people (IDP) ini, jenis pasokan apa yang perlu didistribusikan, dan bagaimana bantuan ini harus menuju. Tanpa bisa mengidentifikasi semua ini, bukan saja akan menyebabkan terjadinya kekacauan dan kemungkinan terjadi tumpang tindih dan menyebabkan munculnya celah- celah, tetapi juga bisa berarti bahwa akan ada berbagai badan kemanusiaan yang bekerja dengan maksud yang sama padahal masih ada bidang-bidang yang dibutuhkan masih tidak terjamah sama sekali.
Meski demikian, dengan sumber-sumber informasi yang tidak tersedia dan bekerja sebagai relawan di wilayah konflik militer, mengirim orang- orang pulang pergi untuk mengumpulkan data menjadi sebuah pekerjaan yang melelahkan dan sering kali menjadi mustahil. Persoalan pun menjadi bertambah buruk ketika jalan-jalan dan berbagai jembatan yang menghubungkan antarkota di Aceh belum sepenuhnya diperbaiki sehingga menihilkan pilihan untuk mengirimkan relawan untuk mengumpulkan data lapangan memanfaatkan transportasi darat. Satu-satunya jalan yang memungkinkan adalah menggunakan transportasi udara.
Namun, pada kenyataannya, persoalan-persoalan ini ternyata terus berputar-putar tanpa ujung yang jelas, dan meyakinkan kita bahwa sesuatu harus dilakukan untuk mempermudah operasi kemanusiaan di tanah Aceh ini.
MENGHADAPI persoalan ini kita menyadari betapa pentingnya peranan teknologi informasi untuk mengatasi hambatan fisik seperti yang dijelaskan di atas. Dengan menggelar berbagai perangkat teknologi informasi, baik itu berupa koneksi nirkabel, komputer, dan berbagai perangkat lainnya di berbagai kamp IDP yang tersebar, para relawan yang mengumpulkan data tidak perlu mondar-mandir ke kantor untuk menyerahkan data-data yang dicari.
Melalui teknologi komunikasi informasi, mereka berada pada satu tempat pengumpulan data dan bekerja secara nyaman di tempat-tempat yang memiliki akses internet. Tanpa tersedianya fasilitas-fasilitas teknologi seperti ini, upaya kemanusiaan yang sekarang berlangsung di Aceh mungkin tidak akan menjadi efektif seperti yang kita saksikan sekarang.
Sebagai tambahan untuk mengimplementasikan upaya bantuan kemanusiaan berbasis teknologi informasi, Pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk memasukkan teknologi komunikasi informasi ke dalam perencanaan komprehensinya untuk membangun kembali Provinsi NAD. Walaupun teknologi informasi menjadi sangat berguna pada masa darurat sebulan pertama setelah tsunami, ada banyak orang kemungkinan akan bertanya intensitas penggunaan infrastruktur teknologi ke dalam perencanaan tersebut, akan berfungsi secara maksimal dan efisien seperti pada masa darurat.
Ada keraguan kalau penduduk Aceh dengan tingkat pendidikan yang ada dan kegiatan ekonomi pascatsunami, ada yang beranggapan bahwa aplikasi penggunaan teknologi informasi tidak akan banyak manfaatnya sehingga belum tentu investasi peralatan teknologi informasi dalam jumlah yang besar donasi berbagai pihak akan siap memasuki proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
Memang bagi sebagian orang, fitur-fitur teknologi yang akan digelar di seluruh wilayah Aceh ini tidak akan banyak bermanfaat, terutama ketika kita menyadari bahwa investasi teknologi informasi melalui donasi tersebut bernilai jutaan dollar AS. Meski demikian, perlu dipertimbangkan bahwa sebuah perencanaan komprehensif artinya juga menjadi sebuah perencanaan permanen di mana akan muncul berbagai fitur yang akan mendukung sebuah komunitas yang ideal pascatsunami.
Fitur-fitur ini, lengkap dengan berbagai peraturan yang berlaku untuk wilayahnya, seperti perumahan, wilayah perdagangan, dan industri, perlu membangun jalan, sistem saluran, gedung-gedung pemerintahan, tempat parkir, transportasi massa, sekolah, dan bahkan juga menyediakan tempat-tempat terbuka untuk pembangunan masa depan. Dan teknologi informasi menduduki posisi yang sama pentingnya dengan berbagai prasarana ini sehingga kita pun beranggapan bahwa kalau memang teknologi komunikasi informasi ini menjadi sesuatu yang praktis sehingga bisa dimasukkan ke dalam perencanaan komprehensif, betapa mahal biaya yang dikandungnya, kenapa tidak digelar untuk dimanfaatkan potensinya secara penuh?
MEMASUKKAN teknologi informasi ke dalam perencanaan komprehensif berarti mempercepat proses rekonstruksi, memperpendek waktu pelaksanaan dibandingkan dengan yang direncanakan. Melalui teknologi informasi, cara berkomunikasi yang efektif seperti melalui e-mail secara langsung dan memanfaatkan sistem jaringan nirkabel dari tempat orang-orang bekerja, memungkinkan mereka untuk bekerja secara efisien dan mengakses berbagai sumber di dunia yang dibutuhkan untuk upaya rekonstruksi tersebut.
Selain itu, kemungkinan lain yang disediakan oleh teknologi informasi adalah mengurangi biaya operasional, termasuk di antaranya biaya bepergian yang dilakukan oleh para pekerja ke media center terdekat agar mereka bisa menyelesaikan pekerjaan mereka.
Bersamaan dengan penggelaran perangkat nirkabel di Aceh, infrastruktur teknologi komunikasi informasi yang akan digelar adalah rencana pemasangan jaringan serat optik yang akan terhubungkan dengan gateway serat optik internasional SEA-ME-WE 3 di Medan yang langsung terkoneksi ke Lhok Seumawe, Banda Aceh, Calang, dan sampai ke kota pantai Meulaboh. Jaringan SEA-ME-WE 3 sendiri sekarang ini terhubungkan dari Australia sampai daratan Eropa.
Daripada memasang sistem serat optik teresterial (menggunakan kabel darat), sistem serat optik bawah laut ini menjadi solusi terbaik untuk menghindari terjadinya perselisihan hak milik tanah yang dilalui kabel darat di masa depan.
DARI berbagai pembicaraan dengan banyak pihak, jelas bahwa informasi yang dikumpulkan di daerah pascabencana tsunami menjadi sangat penting sebagai landasan untuk mengambil tindakan. Dan pada proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini berbagai informasi dibutuhkan secara cepat, tepat, dan akurat. Tidak tersedianya data yang akurat menjadi salah satu kendala yang cukup krusial dan dirasakan semua pihak pada masa darurat selama tiga bulan terakhir ini.
Dengan demikian, keterlibatan semua pihak juga ikut menentukan keberhasilan untuk memasuki dan menyelesaikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini. Fasilitas telekomunikasi dan informasi di seluruh wilayah bencana tsunami sekarang masih terbatas, untuk menggelar sistem jaringan baru jelas akan menambah biaya tersendiri. Belum lagi masalah fungsi kontrol atas distribusi bantuan yang mengalir dari berbagai pihak di dalam dan luar negeri.
Salah satu yang ditawarkan relawan Tim Airputih untuk menyediakan layanan informasi tersebut adalah komunikasi berbasis layanan pesan singkat (SMS) dan didukung oleh seluruh operator GSM.
Layanan SMS Premium ini akan menggunakan kode akses 9731, tetapi tidak dikenai biaya premium. Artinya, setiap informasi yang dikirimkan ke nomor ini hanya akan dikenai biaya pengiriman SMS biasa sebesar Rp 250-Rp 350, bukan biaya premium pada umumnya yang biasanya Rp 1.000-Rp 2.000.
Melalui layanan SMS ini, pemerintah, lembaga-lembaga yang terlibat dalam penanganan bencana di Aceh, maupun masyarakat dapat saling berbagi informasi mengenai berbagai hal, seperti kondisi di kamp IDP, kebutuhan logistik, sampai informasi-informasi berupa penyelewengan penyaluran bantuan.
Protus Tanuhandaru Lulusan University of California Jurusan Electrical Engineering
Edwardo Rusfid Ketua Yayasan Airput
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0503/28/tekno/1645391.htm
Kombinasi Serat Optik dan Layanan SMS
HAMPIR tiga bulan setelah gelombang tsunami menghancurkan wilayah pantai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, meninggalkan reruntuhan dan debu di mana-mana. Provinsi NAD ini tidak hanya menjadi tempat ribuan orang tewas dan secara masif terkubur, tetapi juga menjadi tempat para pengungsi yang diistilahkan sebagai internally displaced people perlu bangkit kembali memulihkan kondisi mereka memasuki era rekonstruksi dan rehabilitasi pascatsunami.
MENGHADAPI berbagai persoalan yang akan dihadapi pada proses selanjutnya, baik pemerintah maupun LSM berpikir keras agar pekerjaan kemanusiaan mereka di Aceh memasuki tahapan ini bisa mencapai kapasitasnya yang maksimal. Dan sebelum memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi ini, sebuah prasyarat kritis menjadi pertimbangan penting sebelum memulai pekerjaan kemanusiaan di Aceh.
Sebuah operasi kemanusiaan memerlukan sebuah pemikiran tentang siapa sedang mengerjakan apa, bagaimana membantu para internally displaced people (IDP) ini, jenis pasokan apa yang perlu didistribusikan, dan bagaimana bantuan ini harus menuju. Tanpa bisa mengidentifikasi semua ini, bukan saja akan menyebabkan terjadinya kekacauan dan kemungkinan terjadi tumpang tindih dan menyebabkan munculnya celah- celah, tetapi juga bisa berarti bahwa akan ada berbagai badan kemanusiaan yang bekerja dengan maksud yang sama padahal masih ada bidang-bidang yang dibutuhkan masih tidak terjamah sama sekali.
Meski demikian, dengan sumber-sumber informasi yang tidak tersedia dan bekerja sebagai relawan di wilayah konflik militer, mengirim orang- orang pulang pergi untuk mengumpulkan data menjadi sebuah pekerjaan yang melelahkan dan sering kali menjadi mustahil. Persoalan pun menjadi bertambah buruk ketika jalan-jalan dan berbagai jembatan yang menghubungkan antarkota di Aceh belum sepenuhnya diperbaiki sehingga menihilkan pilihan untuk mengirimkan relawan untuk mengumpulkan data lapangan memanfaatkan transportasi darat. Satu-satunya jalan yang memungkinkan adalah menggunakan transportasi udara.
Namun, pada kenyataannya, persoalan-persoalan ini ternyata terus berputar-putar tanpa ujung yang jelas, dan meyakinkan kita bahwa sesuatu harus dilakukan untuk mempermudah operasi kemanusiaan di tanah Aceh ini.
MENGHADAPI persoalan ini kita menyadari betapa pentingnya peranan teknologi informasi untuk mengatasi hambatan fisik seperti yang dijelaskan di atas. Dengan menggelar berbagai perangkat teknologi informasi, baik itu berupa koneksi nirkabel, komputer, dan berbagai perangkat lainnya di berbagai kamp IDP yang tersebar, para relawan yang mengumpulkan data tidak perlu mondar-mandir ke kantor untuk menyerahkan data-data yang dicari.
Melalui teknologi komunikasi informasi, mereka berada pada satu tempat pengumpulan data dan bekerja secara nyaman di tempat-tempat yang memiliki akses internet. Tanpa tersedianya fasilitas-fasilitas teknologi seperti ini, upaya kemanusiaan yang sekarang berlangsung di Aceh mungkin tidak akan menjadi efektif seperti yang kita saksikan sekarang.
Sebagai tambahan untuk mengimplementasikan upaya bantuan kemanusiaan berbasis teknologi informasi, Pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk memasukkan teknologi komunikasi informasi ke dalam perencanaan komprehensinya untuk membangun kembali Provinsi NAD. Walaupun teknologi informasi menjadi sangat berguna pada masa darurat sebulan pertama setelah tsunami, ada banyak orang kemungkinan akan bertanya intensitas penggunaan infrastruktur teknologi ke dalam perencanaan tersebut, akan berfungsi secara maksimal dan efisien seperti pada masa darurat.
Ada keraguan kalau penduduk Aceh dengan tingkat pendidikan yang ada dan kegiatan ekonomi pascatsunami, ada yang beranggapan bahwa aplikasi penggunaan teknologi informasi tidak akan banyak manfaatnya sehingga belum tentu investasi peralatan teknologi informasi dalam jumlah yang besar donasi berbagai pihak akan siap memasuki proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
Memang bagi sebagian orang, fitur-fitur teknologi yang akan digelar di seluruh wilayah Aceh ini tidak akan banyak bermanfaat, terutama ketika kita menyadari bahwa investasi teknologi informasi melalui donasi tersebut bernilai jutaan dollar AS. Meski demikian, perlu dipertimbangkan bahwa sebuah perencanaan komprehensif artinya juga menjadi sebuah perencanaan permanen di mana akan muncul berbagai fitur yang akan mendukung sebuah komunitas yang ideal pascatsunami.
Fitur-fitur ini, lengkap dengan berbagai peraturan yang berlaku untuk wilayahnya, seperti perumahan, wilayah perdagangan, dan industri, perlu membangun jalan, sistem saluran, gedung-gedung pemerintahan, tempat parkir, transportasi massa, sekolah, dan bahkan juga menyediakan tempat-tempat terbuka untuk pembangunan masa depan. Dan teknologi informasi menduduki posisi yang sama pentingnya dengan berbagai prasarana ini sehingga kita pun beranggapan bahwa kalau memang teknologi komunikasi informasi ini menjadi sesuatu yang praktis sehingga bisa dimasukkan ke dalam perencanaan komprehensif, betapa mahal biaya yang dikandungnya, kenapa tidak digelar untuk dimanfaatkan potensinya secara penuh?
MEMASUKKAN teknologi informasi ke dalam perencanaan komprehensif berarti mempercepat proses rekonstruksi, memperpendek waktu pelaksanaan dibandingkan dengan yang direncanakan. Melalui teknologi informasi, cara berkomunikasi yang efektif seperti melalui e-mail secara langsung dan memanfaatkan sistem jaringan nirkabel dari tempat orang-orang bekerja, memungkinkan mereka untuk bekerja secara efisien dan mengakses berbagai sumber di dunia yang dibutuhkan untuk upaya rekonstruksi tersebut.
Selain itu, kemungkinan lain yang disediakan oleh teknologi informasi adalah mengurangi biaya operasional, termasuk di antaranya biaya bepergian yang dilakukan oleh para pekerja ke media center terdekat agar mereka bisa menyelesaikan pekerjaan mereka.
Bersamaan dengan penggelaran perangkat nirkabel di Aceh, infrastruktur teknologi komunikasi informasi yang akan digelar adalah rencana pemasangan jaringan serat optik yang akan terhubungkan dengan gateway serat optik internasional SEA-ME-WE 3 di Medan yang langsung terkoneksi ke Lhok Seumawe, Banda Aceh, Calang, dan sampai ke kota pantai Meulaboh. Jaringan SEA-ME-WE 3 sendiri sekarang ini terhubungkan dari Australia sampai daratan Eropa.
Daripada memasang sistem serat optik teresterial (menggunakan kabel darat), sistem serat optik bawah laut ini menjadi solusi terbaik untuk menghindari terjadinya perselisihan hak milik tanah yang dilalui kabel darat di masa depan.
DARI berbagai pembicaraan dengan banyak pihak, jelas bahwa informasi yang dikumpulkan di daerah pascabencana tsunami menjadi sangat penting sebagai landasan untuk mengambil tindakan. Dan pada proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini berbagai informasi dibutuhkan secara cepat, tepat, dan akurat. Tidak tersedianya data yang akurat menjadi salah satu kendala yang cukup krusial dan dirasakan semua pihak pada masa darurat selama tiga bulan terakhir ini.
Dengan demikian, keterlibatan semua pihak juga ikut menentukan keberhasilan untuk memasuki dan menyelesaikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini. Fasilitas telekomunikasi dan informasi di seluruh wilayah bencana tsunami sekarang masih terbatas, untuk menggelar sistem jaringan baru jelas akan menambah biaya tersendiri. Belum lagi masalah fungsi kontrol atas distribusi bantuan yang mengalir dari berbagai pihak di dalam dan luar negeri.
Salah satu yang ditawarkan relawan Tim Airputih untuk menyediakan layanan informasi tersebut adalah komunikasi berbasis layanan pesan singkat (SMS) dan didukung oleh seluruh operator GSM.
Layanan SMS Premium ini akan menggunakan kode akses 9731, tetapi tidak dikenai biaya premium. Artinya, setiap informasi yang dikirimkan ke nomor ini hanya akan dikenai biaya pengiriman SMS biasa sebesar Rp 250-Rp 350, bukan biaya premium pada umumnya yang biasanya Rp 1.000-Rp 2.000.
Melalui layanan SMS ini, pemerintah, lembaga-lembaga yang terlibat dalam penanganan bencana di Aceh, maupun masyarakat dapat saling berbagi informasi mengenai berbagai hal, seperti kondisi di kamp IDP, kebutuhan logistik, sampai informasi-informasi berupa penyelewengan penyaluran bantuan.
Protus Tanuhandaru Lulusan University of California Jurusan Electrical Engineering
Edwardo Rusfid Ketua Yayasan Airput
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0503/28/tekno/1645391.htm
budaya dan konsep tekhnologi
Budaya dan konsep tekhnologi
Tekhnologi dalam refleksi budaya
Oleh : Alif Lukmanul Hakim*
Teknologi tidak lagi merupakan sesuatu di luar manusia, melainkan menjadi substansinya. Teknologi tidak lagi berhadapan dengan manusia, melainkan terintegrasi dengannya, dan bahkan secara bertahap menelannya. Bukan masyarakat manusiawi yang kita hadapi melainkan masyarakat teknologis.(Soerjanto Poespowardojo. 1993. Strategi Kebudayaan. Gramedia Jakarta)
Orde Teknologi
Kenyataan kehidupan kita di Abad ke-21 ini makin menunjukkan signifikansi teknologi sebagai salah satu hasil atau produk budaya yang mengagumkan sekaligus “memprihatinkan”. Hal ini menjadi kontradiksi internal dalam aras perkembangan teknologi yang tak dapat kita hindari. Betapa tidak!! Penggunaan dan pemanfaatan teknologi telah membawa kemajuan dalam aktivitas kehidupan manusia, namun di sisi lain memunculkan masalah yang pelik dan rumit bagi keberadaan teknologi dalam kehidupan manusia itu sendiri. Teknologi telah mengalami metamorfosis atau bahkan perubahan fungsi dan kedudukan dalam dinamika kehidupan manusia.
Pada awalnya teknologi berkedudukan dan berfungsi sebagai sarana signifikan bagi kemajuan kehidupan manusia – sistem peralatan untuk kepentingan manusia dalam terminologi Soerjanto Poespowardojo — namun dalam perkembangannya cenderung berubah menjadi kekuatan yang mengatur bahkan merusak tingkah laku dan tindakan manusia dalam kehidupannya. Kita dapat merasakan bahkan melihat betapa kehidupan – kebudayaan – seakan tertinggal dari kemajuan teknologi yang begitu cepat dan pesatnya. Saat ini kehidupan kita berada dalam bayang-bayang ancaman kebinasaan oleh kemajuan teknologi yang telah kita kembangkan sendiri. Perlombaan dalam mencipatakan bom nuklir dan alat penghancur massal lainnya menjadi bukti bahwa manusia telah lepas pengawasan terhadap teknologi yang diciptakan dan dikembangkannya sendiri.
Dalam konteks modernisasi Djuretna Adi Imam Muhni menegaskan bahwa teknik – teknologi – memang dapat menjunjung martabat manusia menjadi tuan besar, namun hendaknya jangan dilupakan bahwa teknik juga dapat membuat manusia menjadi budak. Kita juga dapat menelaah sifat-sifat khas dari teknik, yang pada dasarnya bersifat kaku atau tidak fleksibel dan bersifat langsung, mekanis serta absolut atau mutlak. Manusia hanya dapat menerima atau menolak keberadaannya. Dapat dibenarkan kiranya bila dikatakan bahwa dengan teknik atau teknologi manusia telah menciptaka suatu “agama” baru, yaitu suatu penghambaan penuh pada – dalam terminologi Djuretna Adi Imam Muhni seorang pakar Filsafat Indonesia – orde rasional dan teknis, yang ditaati secara “given” dan “taken for granted”. Kita tak dapat menolak, betapa kita begitu di setir atau dibelenggu oleh teknologi. Kita tidur bukan lagi hanya karena kita mengantuk, melainkan karena jam sudah menunjukkan waktu untuk tidur. Manusia dengan segala kelebihannya telah tunduk kepada sang waktu.
Refleksi Budaya terhadap teknologi
Bila kita mencoba merumuskan pengertian kebudayaan secara luas, tentu kita akan sampai pada pemahaman bahwa kebudayaan adalah apa saja yang dipikirkan dan dilakukan atau dikerjakan oleh manusia termasuk segala peralatan yang digunakannya, maka teknologi adalah anak kandung dari kebudayaan, di samping perangkat budaya yang lain, seperti ilmu, bahasa, seni sistem norma atau nilai, arsitektur, pertanian dan sebagainya. Teknologi sering dikaitkan dengan ilmu pengetahuan, karena pada dasarnya teknologi merupakan aplikasi atau penerapan dari ilmu pengetahuan. Atas dasar inilah teknologi dapat berkembang, yang tentunya harus didukung dengan sikap-sikap budaya yang mampu menjadi penyeimbang dalam kemajuan teknologi.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat pesat, namun dampaknya terhadap perubahan sosial pun sangatlah besar, dan karena ritme atau tempo perubahannya sangat cepat dan tinggi, kita tidak diberi cukup waktu untuk melakukan adaptasi yang diperlukan untuk mengimbanginya seperti mengubah sikap-sikap mental dan hidup, hubungan manusiawi antara teknologi dan masyarakat, struktur politik, ekonomi, dan juga hubungan antara negara atau bangsa yang satu dengan lainnya dalam bingkai kemajuan teknologi yang manusiawi. Sepertinya, inti persoalan atau kata kunci dari persoalan teknologi ini adalah kenyataan bahwa kemajuan teknologi tidak disertai dengan kemajuan kebudayaan kita – pemahaman dan mindset kita akan kebudayaan yang manusiawi, emansipatoris dan memberikan rahmat serta manfaat yang sebesar-besarnya bagi alam semesta dan kehidupan manusia. Hal ini terkait erat dengan kemampuan kita untuk menemukan formulasi sistem norma dan perangkat nilai yang bertipikal pathfinder (kreatif-fleksibel-dinamis) untuk menembus kebuntuan-kebuntuan problematika teknologi dan kebudayaan yang menghadang serta menemukan dataran-dataran baru yang lebih manusiawi dan sesuai dengan misi kemanusiaan kita sebagai khalifah (wakil Tuhan) di dunia.
Menciptakan Teknologi yang Manusiawi : Mengoptimalkan Peran Serta Manusia
Bagaimana kita mengeliminasi atau memperkecil – sedapat mungkin – dampak negatif yang ditimbulkan oleh teknologi terhadap kebudayaan? Tentunya kita harus memperluas pengetahuan dan daya analisis kita mengenai teknologi. Kita harus lebih kritis terhadap berbagai efek samping atau ekses negatif dari suatu – kemajuan – teknologi. Agar dapat mencapai sikap kritis di atas kita harus meningkatkan kepekaan kita terhadap kelestariaan dan keselamatan lingkungan hidup kita dari beragam akibat negatif dari teknologi dan kemajuannya, serta tak lupa pula kita harus meningkatkan rasa solidaritas akan keselamatan dan kesejahteraan manusia dan masyarakat kita.
Meskipun teknologi telah menjadikan manusia modern teralienasi dari masyarakatnya sendiri, pada dasarnya manusia sendiri yang harus memikul tanggung jawab terhadap setiap pemakaian dan pemanfaatan teknologi dengan segala dampak dan akibatnya. Manusia harus sadar bahwa teknologi tidak dapat memecahkan semua masalah yang dihadapinya. Karena itu teknologi jangan sampai menjadi “agama” baru yang kita sembah sedemikian rupa.
Kita harus tegas dalam mengambil sikap bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi hanya merupakan alat bagi manusia. Pengetahuan – menurut Muchtar Buchori – tidak dapat menguasai hakikat manusia, jiwanya, rohnya, bahkan hati nuraninya. Karena itu setiap langkah aplikatif dari teknologi – terlebih dahulu — perlu secara sadar dan kritis kita nilai dampaknya, tidak saja pada kebudayaan, melainkan juga pada lingkungan hidup, pada masyarakat, pada manusia sebagai pribadi dan pada berbagai dimensi kehidupan yang lain.(Muchtar Buchori. Dalam Y.B. Mangunwijaya, 1985: .
Last but not least, sangatlah signifikan peran manusia untuk menguasai dan mengendalikan ilmu pengetahuan dan teknologi agar senantiasa melaju dalam jalur lintasan yang seharusnya, yakni dengan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan secara berimbang dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Disinilah diperlukan pengembangan format dan sistem pendidikan baru yang emansipatoris dan berkarakter problem possing education – bila kita merunut pada konsep dan terminologi Paulo Freire; seorang Filsuf yang mencermati problematika pendidikan – agar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat selalu diawasi serta mampu untuk dikendalikan oleh manusia secara sustainable atau berkesinambungan. Semuanya tidak sesederhana yang kita bayangkan bukan?
* Pemerhati Filsafat, Religi dan Budaya. Direktur KOMMPAK. Alumni Pelayaran Kebangsaan V Tahun 2005. Tinggal di Yogyakarta.(dalpeles_story@yahoo.com/08157952385)
Tekhnologi dalam refleksi budaya
Oleh : Alif Lukmanul Hakim*
Teknologi tidak lagi merupakan sesuatu di luar manusia, melainkan menjadi substansinya. Teknologi tidak lagi berhadapan dengan manusia, melainkan terintegrasi dengannya, dan bahkan secara bertahap menelannya. Bukan masyarakat manusiawi yang kita hadapi melainkan masyarakat teknologis.(Soerjanto Poespowardojo. 1993. Strategi Kebudayaan. Gramedia Jakarta)
Orde Teknologi
Kenyataan kehidupan kita di Abad ke-21 ini makin menunjukkan signifikansi teknologi sebagai salah satu hasil atau produk budaya yang mengagumkan sekaligus “memprihatinkan”. Hal ini menjadi kontradiksi internal dalam aras perkembangan teknologi yang tak dapat kita hindari. Betapa tidak!! Penggunaan dan pemanfaatan teknologi telah membawa kemajuan dalam aktivitas kehidupan manusia, namun di sisi lain memunculkan masalah yang pelik dan rumit bagi keberadaan teknologi dalam kehidupan manusia itu sendiri. Teknologi telah mengalami metamorfosis atau bahkan perubahan fungsi dan kedudukan dalam dinamika kehidupan manusia.
Pada awalnya teknologi berkedudukan dan berfungsi sebagai sarana signifikan bagi kemajuan kehidupan manusia – sistem peralatan untuk kepentingan manusia dalam terminologi Soerjanto Poespowardojo — namun dalam perkembangannya cenderung berubah menjadi kekuatan yang mengatur bahkan merusak tingkah laku dan tindakan manusia dalam kehidupannya. Kita dapat merasakan bahkan melihat betapa kehidupan – kebudayaan – seakan tertinggal dari kemajuan teknologi yang begitu cepat dan pesatnya. Saat ini kehidupan kita berada dalam bayang-bayang ancaman kebinasaan oleh kemajuan teknologi yang telah kita kembangkan sendiri. Perlombaan dalam mencipatakan bom nuklir dan alat penghancur massal lainnya menjadi bukti bahwa manusia telah lepas pengawasan terhadap teknologi yang diciptakan dan dikembangkannya sendiri.
Dalam konteks modernisasi Djuretna Adi Imam Muhni menegaskan bahwa teknik – teknologi – memang dapat menjunjung martabat manusia menjadi tuan besar, namun hendaknya jangan dilupakan bahwa teknik juga dapat membuat manusia menjadi budak. Kita juga dapat menelaah sifat-sifat khas dari teknik, yang pada dasarnya bersifat kaku atau tidak fleksibel dan bersifat langsung, mekanis serta absolut atau mutlak. Manusia hanya dapat menerima atau menolak keberadaannya. Dapat dibenarkan kiranya bila dikatakan bahwa dengan teknik atau teknologi manusia telah menciptaka suatu “agama” baru, yaitu suatu penghambaan penuh pada – dalam terminologi Djuretna Adi Imam Muhni seorang pakar Filsafat Indonesia – orde rasional dan teknis, yang ditaati secara “given” dan “taken for granted”. Kita tak dapat menolak, betapa kita begitu di setir atau dibelenggu oleh teknologi. Kita tidur bukan lagi hanya karena kita mengantuk, melainkan karena jam sudah menunjukkan waktu untuk tidur. Manusia dengan segala kelebihannya telah tunduk kepada sang waktu.
Refleksi Budaya terhadap teknologi
Bila kita mencoba merumuskan pengertian kebudayaan secara luas, tentu kita akan sampai pada pemahaman bahwa kebudayaan adalah apa saja yang dipikirkan dan dilakukan atau dikerjakan oleh manusia termasuk segala peralatan yang digunakannya, maka teknologi adalah anak kandung dari kebudayaan, di samping perangkat budaya yang lain, seperti ilmu, bahasa, seni sistem norma atau nilai, arsitektur, pertanian dan sebagainya. Teknologi sering dikaitkan dengan ilmu pengetahuan, karena pada dasarnya teknologi merupakan aplikasi atau penerapan dari ilmu pengetahuan. Atas dasar inilah teknologi dapat berkembang, yang tentunya harus didukung dengan sikap-sikap budaya yang mampu menjadi penyeimbang dalam kemajuan teknologi.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat pesat, namun dampaknya terhadap perubahan sosial pun sangatlah besar, dan karena ritme atau tempo perubahannya sangat cepat dan tinggi, kita tidak diberi cukup waktu untuk melakukan adaptasi yang diperlukan untuk mengimbanginya seperti mengubah sikap-sikap mental dan hidup, hubungan manusiawi antara teknologi dan masyarakat, struktur politik, ekonomi, dan juga hubungan antara negara atau bangsa yang satu dengan lainnya dalam bingkai kemajuan teknologi yang manusiawi. Sepertinya, inti persoalan atau kata kunci dari persoalan teknologi ini adalah kenyataan bahwa kemajuan teknologi tidak disertai dengan kemajuan kebudayaan kita – pemahaman dan mindset kita akan kebudayaan yang manusiawi, emansipatoris dan memberikan rahmat serta manfaat yang sebesar-besarnya bagi alam semesta dan kehidupan manusia. Hal ini terkait erat dengan kemampuan kita untuk menemukan formulasi sistem norma dan perangkat nilai yang bertipikal pathfinder (kreatif-fleksibel-dinamis) untuk menembus kebuntuan-kebuntuan problematika teknologi dan kebudayaan yang menghadang serta menemukan dataran-dataran baru yang lebih manusiawi dan sesuai dengan misi kemanusiaan kita sebagai khalifah (wakil Tuhan) di dunia.
Menciptakan Teknologi yang Manusiawi : Mengoptimalkan Peran Serta Manusia
Bagaimana kita mengeliminasi atau memperkecil – sedapat mungkin – dampak negatif yang ditimbulkan oleh teknologi terhadap kebudayaan? Tentunya kita harus memperluas pengetahuan dan daya analisis kita mengenai teknologi. Kita harus lebih kritis terhadap berbagai efek samping atau ekses negatif dari suatu – kemajuan – teknologi. Agar dapat mencapai sikap kritis di atas kita harus meningkatkan kepekaan kita terhadap kelestariaan dan keselamatan lingkungan hidup kita dari beragam akibat negatif dari teknologi dan kemajuannya, serta tak lupa pula kita harus meningkatkan rasa solidaritas akan keselamatan dan kesejahteraan manusia dan masyarakat kita.
Meskipun teknologi telah menjadikan manusia modern teralienasi dari masyarakatnya sendiri, pada dasarnya manusia sendiri yang harus memikul tanggung jawab terhadap setiap pemakaian dan pemanfaatan teknologi dengan segala dampak dan akibatnya. Manusia harus sadar bahwa teknologi tidak dapat memecahkan semua masalah yang dihadapinya. Karena itu teknologi jangan sampai menjadi “agama” baru yang kita sembah sedemikian rupa.
Kita harus tegas dalam mengambil sikap bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi hanya merupakan alat bagi manusia. Pengetahuan – menurut Muchtar Buchori – tidak dapat menguasai hakikat manusia, jiwanya, rohnya, bahkan hati nuraninya. Karena itu setiap langkah aplikatif dari teknologi – terlebih dahulu — perlu secara sadar dan kritis kita nilai dampaknya, tidak saja pada kebudayaan, melainkan juga pada lingkungan hidup, pada masyarakat, pada manusia sebagai pribadi dan pada berbagai dimensi kehidupan yang lain.(Muchtar Buchori. Dalam Y.B. Mangunwijaya, 1985: .
Last but not least, sangatlah signifikan peran manusia untuk menguasai dan mengendalikan ilmu pengetahuan dan teknologi agar senantiasa melaju dalam jalur lintasan yang seharusnya, yakni dengan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan secara berimbang dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Disinilah diperlukan pengembangan format dan sistem pendidikan baru yang emansipatoris dan berkarakter problem possing education – bila kita merunut pada konsep dan terminologi Paulo Freire; seorang Filsuf yang mencermati problematika pendidikan – agar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat selalu diawasi serta mampu untuk dikendalikan oleh manusia secara sustainable atau berkesinambungan. Semuanya tidak sesederhana yang kita bayangkan bukan?
* Pemerhati Filsafat, Religi dan Budaya. Direktur KOMMPAK. Alumni Pelayaran Kebangsaan V Tahun 2005. Tinggal di Yogyakarta.(dalpeles_story@yahoo.com/08157952385)
Langganan:
Postingan (Atom)
