<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7086681458856619876</id><updated>2012-02-16T18:56:28.764-08:00</updated><title type='text'>Menjadikan MiMpi YanG SempuRna</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>eRniE tHea Euy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13731893135837013176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_uUQzKn5CKZ8/SImosmYQ-zI/AAAAAAAAAAM/E0U_auvuOjM/S220/erni+ma+teh+sep.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7086681458856619876.post-7044860879066248409</id><published>2009-01-12T03:07:00.000-08:00</published><updated>2009-01-12T03:16:19.401-08:00</updated><title type='text'>Kirim lagi Banten TV</title><content type='html'>Goes to Banten TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sik...asyik...Dosen Ngajak Jalan2&lt;br /&gt;Eh... Ternyata Kunjungan Ke Banten TV&lt;br /&gt;Anak Jurnalistik V E mencari ilmu seputar televisi di Banten TV..&lt;br /&gt;Kita Melihat dan Berdiskusi Bersama dengan kru banten TV seputar Televisi Lokal.&lt;br /&gt;Buanyaak sekali ilmu yang bisa di dapet dari sana seputar TV...Baik Produksi hingga pemancar yang digunakan &lt;br /&gt;Wah Pokoke Banyak ilmunya Deh.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7086681458856619876-7044860879066248409?l=reyna-avrilea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/feeds/7044860879066248409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7086681458856619876&amp;postID=7044860879066248409' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/7044860879066248409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/7044860879066248409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/2009/01/kirim-lagi-banten-tv.html' title='Kirim lagi Banten TV'/><author><name>eRniE tHea Euy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13731893135837013176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_uUQzKn5CKZ8/SImosmYQ-zI/AAAAAAAAAAM/E0U_auvuOjM/S220/erni+ma+teh+sep.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7086681458856619876.post-1358230137773336501</id><published>2009-01-08T01:46:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T01:48:25.881-08:00</updated><title type='text'>Sejarah dan Perkembangan Blog</title><content type='html'>Sejarah dan Perkembangan Blog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda punya blog? Itu lumrah. Saat ini blog sudah menjadi gaya hidup bahkan lebih penting daripada nyawa. Masih inget penduduk China yang tetep ngeblog meski dilanda gempa hebat beberapa waktu lalu? Nah itulah salah satu kehebatan dari blog. Tapi apakah anda tahu asal muasal dari blog? Nah kalau yang ini mungkin anda belum tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah blog muncul pertama kali pada tahun 1997 oleh Jorn Barger. Istilah itu digunakan oleh Barger untuk menyebut website yang berisi catatan-catatan harian si websurfer. Blog pertama kemungkinan besar adalah halaman “What’s New” pada browser Mosaic yang dibuat oleh Marc Andersen pada tahun 1993. Mosaic sendiri adalah browser pertama sebelum kemunculan dari Internet Explorer. Tapi ada yang mengatakan bahwa blog pertama adalah website pribadi milik Justin Hall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenaran blog dipicu oleh kejadian 9 September 2001, yaitu serangan ke gedung kembar WTC. Kala itu banyak warga Amerika yang membanjiri internet untuk mencari tahu mengenai kejadian itu. Ternyata banyak rekaman atau catatan-catatan pribadi dari orang-orang yang mengalami atau melihat langsung kejadian itu. Sejak saat itu blog menjadi alternatif sumber informasi dan berita. Nah sejak saat itu blog menjadi suatu trend dan banyak orang membuat blog. Para pemilik blog disebut juga blogger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan di Indonesia? Perkembangan blog di negara kita tak jauh beda. Diawali tahun 1999-2000 dan menjadi trend di tahun 2003. Bahkan di tahun tersebut blog sudah dianggap memiliki potensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah tahun-tahun belakangan ini, blog sudah menjadi sumber nafkah sebagian blogger di Indonesia. Banyak blogger yang sudah meraup ribuan dollar menjadi netpreanur, seperti cosa, atau yang lainnya. Selain masyarakat ‘biasa’, banyak tokoh-tokoh masyarakat yang ikut ngeblog. Mulai dari konsultan perusahaan sampai dengan seniman juga mempunyai blog pribadi. Tentu saja isi dari blog tersebut bervariasi, tergantung profesi yang mereka tekuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah walaupun ada tokoh yang apatis terhadap perkembangan blog dan blogger, tapi menurut saya blog akan terus berkembang dan exist sepanjang masih hidupnya internet di dunia ini. Keep blogging dan selalu sukses buat blogger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://blogger-jogja.com/sejarah-dan-perkembangan-blog.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7086681458856619876-1358230137773336501?l=reyna-avrilea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/feeds/1358230137773336501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7086681458856619876&amp;postID=1358230137773336501' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/1358230137773336501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/1358230137773336501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/2009/01/sejarah-dan-perkembangan-blog.html' title='Sejarah dan Perkembangan Blog'/><author><name>eRniE tHea Euy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13731893135837013176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_uUQzKn5CKZ8/SImosmYQ-zI/AAAAAAAAAAM/E0U_auvuOjM/S220/erni+ma+teh+sep.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7086681458856619876.post-7439691791044670306</id><published>2009-01-06T21:17:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T21:20:09.263-08:00</updated><title type='text'>Ponsel sebagai Teknologi Budaya dan Budaya Teknologi</title><content type='html'>Ketika Ponsel Menabrak Pakem Privasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta - (Weekly Review) Adalah sebuah teknologi bernama telepon selular (ponsel), yang kemudian melahirkan sebuah budaya baru bagi masyarakat di dunia yang sudah sangat renta ini, yaitu "budaya mobilitas" (culture of mobility). Budaya bergerak inilah yang kemudian menginspirasikan sekian banyak para pemuja piranti teknologi informasi (TI) untuk dapat berkomunikasi kapan dan di mana saja. Bahkan salah satu produsen ponsel terkemuka, menjadikan budaya mobilitas tersebut sebagai salah satu pameo budaya kerja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penganut budaya mobilitas percaya bahwa ruang dan waktu tidak lagi menjadi sesuatu batasan dalam bekerja, berkomunikasi dan beraktifitas. Dengan mengadopsi budaya mobilitas, kantor Anda adalah diri Anda sendiri. Kantor Anda ter-embedded pada diri Anda, kemanapun Anda pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bahkan bisa "melipat dunia", hanya bermodalkan sebuah ponsel. Teleworking, telecommuting, teleconference dan bertele-tele lainnya, kini sudah bisa dilayani oleh ponsel. Tentunya ponselnya juga harus yang canggih punya, bukan yang sekelas "jutaan umat" pada beberapa tahun silam yang laris-manis walaupun keunggulannya hanya pada game uler-uleran-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ponsel dengan kelengkapan kamera untuk still image hingga video, dengan resolusi yang semakin membaik, adalah pilihan bagi mereka yang berduit cukupan. Bluetooth dan MMS pun adalah suatu keharusan ketika mereka memutuskan untuk membeli ponsel. Digunakan atau tidak itu urusan nanti, mungkin ngerti fungsi dan memfungsikannya pun tidak. Pokoknya, nge-trend gitu lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, suatu budaya tak lebih dari sekedar hasil kreasi akal-budi manusia yang kerap tak dilengkapi dengan "buku manual", termasuk budaya mobilitas tersebut. Sehingga mereka yang hidup di dan dengan budaya tersebut kemudian mudah menjadi gamang ketika menyadari bahwa bersama budaya mobilitas ternyata ikut pula terbawa beberapa dampak yang dapat memukul balik para pengikutnya. Mereka tak siap menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya mobilitas (baca: ponsel) ternyata juga "menabrak" pakem privasi, yaitu dengan nyasarnya konten pornografi hingga ke tempat privat dan nyasarnya konten privat hingga ke tempat publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konten Porno ke Tempat Privat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dampak yang pertama, yaitu nyasarnya konten pornografi hingga ke tempat privat, ini sempat menjadi headline di tabloid Nakita (nomor 316, tahun VII, 23 April 2005) beberapa waktu lalu. Diberitakan dalam tabloid tersebut, bahwa anak-anak usia dini yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), sangat rentan terpapar konten pornografi melalui ponsel yang dibawanya. "Pornografi di Ponsel Anak, Banyak Anak SD Jadi Sasaran!", demikian tabloid tersebut menuliskan besar-besar judul beritanya pada halaman depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dengan membekali ponsel ke anak, orang tua akan bisa selalu berkomunikasi kapan saja dengan anaknya. Masalahnya, baik orang tua maupun si anak ternyata tidak terlalu paham tentang fitur-fitur ponsel. Walhasil, si anak dibekali ponsel yang tercanggih, lengkap dengan fasilitas MMS-nya, yang kemudian menjadi salah satu target konten porno yang nyasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponsel sebagai sarana komunikasi yang paling privat antara orangtua dan anak, pun ternyata dapat dikotori dengan konten-konten porno dari antah-berantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal urusannya simpel saja. Jangan berikan ponsel yang canggih untuk digunakan oleh anak. Berikan saja ponsel dengan fitur paling minim, cukup telepon dan SMS saja. Paling banter harga barunya hanya setengah jutaan saja. Daripada memanjakan anak dengan teknologi tercanggih, yang akhirnya malah jadi berabe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konten Privat ke Tempat Publik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, dampak kedua ini juga tidak kalah seru. Kini di Internet semakin banyak berseliweran gambar-gambar (still image) ataupun cuplikan video (video clip) dengan konten lokal yang cukup "panas"! Konten-konten tersebut kuat diduga diambil dengan menggunakan fasilitas kamera pada yang sudah built-in pada banyak ponsel keluaran terkini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya ada sebuah video clip yang menggambarkan suasana di dalam ruang kelas dengan beberapa siswi menggunakan baju seragam berlambang OSIS, kemudian saling mempertunjukkan beberapa bagian tubuh mereka yang sebelumnya tertutup oleh baju seragam. Beberapa mailing-list (milis) yang turut mendistribusikan konten-konten tersebut kerap mempercayai bahwa para obyek dalam konten tersebut adalah siswi SMU negeri yang cukup terkenal di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kini tengah heboh penyebaran konten video clip seseorang perempuan yang diklaim sangat mirip Mawar, juara 2 AFI. Bahkan banyak pula yang yakin bahwa obyek dalam video clip tersebut memang benar Mawar itu sendiri. Dalam konten tersebut si perempuan tengah dilulur dan tampak setengah badan ke atas tanpa busana. Sembari dilulur, ada seorang rekannya yang merekam menggunakan sebuah ponsel dan tampak akrab bercakap-cakap dengan perempuan tersebut. Tablod Star Nova (nomor 142, tahun III, Mei 2005) bahkan memajang besar-besar judul "Adegan Panas Mawar AFI Beredar!" pada halaman depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari kedua contoh di atas adalah, bahwa baik antara si perekam gambar maupun pihak yang direkam gambarnya, ternyata sama-sama saling kenal, berinteraksi secara langsung saat penggambilan gambar dan tampak tidak adanya unsur paksaan. Dan bukan tidak mungkin, para pihak yang terlibat tersebut memang tidak pernah punya itikad untuk menyebarluaskan "hasil karya" mereka. Toh memang tidak salah ketika berkreasi sesuatu untuk koleksi pribadi atau terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa koleksi pribadi tersebut bisa meluncur bebas di Internet? Salah satu hasil analisis yang masuk akal adalah karena koleksi tersebut "dicuri". Karena dengan berbagai trik yang tidak terlalu sulit, kini konten apapun yang ada di ponsel berfitur canggih, akan dapat disadap. Lupa mematikan fitur bluetooth di tempat umum misalnya, ditambah dengan sedikit kecerobohan dalam menjawab pesan yang muncul di layar ponsel, akan mengakibatkan seluruh isi ponsel dapat dikopi oleh seseorang yang antah-berantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilitas vs Permisifitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begini keadaannya, maka tak ada hal lain yang bisa kita lakukan, selain lebih cerdas dalam memilih dan menggunakan teknologi. Sekedar mengikuti tren tanpa pengetahuan yang cukup, sama saja bunuh diri. Memang kita lebih senang mengutuk para pelaku penyebaran konten privat ke tempat publik atau konten porno ke tempat privat. Dan konyolnya, bukan bualan jika akhirnya teknologi yang disalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal teknologi adalah sekedar alat pemutar suatu budaya, budaya mobilitas. Dan memang akhirnya yang namanya mobilitas bukan lagi sekedar pada pelakunya, tetapi juga pada kontennya. Ketika Anda memilih hidup pada budaya mobilitas ini, maka batasan antara privasi ataupun ruang privat menjadi kabur. Privasi adalah hal yang kian hari kian diperjuangkan oleh banyak orang, tetapi di saat yang bersamaan keberadaan teknologi seolah berada pada garis yang berseberangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, tak ada salahnya jika kita pahami bahwa dalam budaya mobilitas, yang bergerak (mobile) selain pelaku dan kontennya, juga tingkat permisifitas kita. Kita semakin "dipaksa" untuk memaklumi bahwa privasi haruslah digadaikan dalam budaya mobilitas. Dan ini berarti termasuk privasi anak-anak dan para remaja kita! Mudah-mudahan deskripsi pada paragraf terakhir ini tidak pernah terjadi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Penulis: Donny B.U. - detikinet&lt;br /&gt;Penulis Weekly Review adalah Koordinator ICT Watch, pengajar pada Universitas Bina Nusantara dan Redaktur Pelaksana pada Detikinet.com. Tulisan ini tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com.&lt;br /&gt;( dbu )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.detikinet.com/read/2005/06/22/124541/390074/408/ketika-ponsel-menabrak-pakem-privasi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7086681458856619876-7439691791044670306?l=reyna-avrilea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/feeds/7439691791044670306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7086681458856619876&amp;postID=7439691791044670306' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/7439691791044670306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/7439691791044670306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/2009/01/ponsel-sebagai-teknologi-budaya-dan.html' title='Ponsel sebagai Teknologi Budaya dan Budaya Teknologi'/><author><name>eRniE tHea Euy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13731893135837013176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_uUQzKn5CKZ8/SImosmYQ-zI/AAAAAAAAAAM/E0U_auvuOjM/S220/erni+ma+teh+sep.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7086681458856619876.post-5164323159404512216</id><published>2008-12-22T03:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-22T03:27:36.900-08:00</updated><title type='text'>Tantangan Masa Depan Konvergensi Media</title><content type='html'>Oleh: Anang Hermawan**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi (information and communication technology / ICT) selama dekade terakhir membawa tren baru di dunia industri komunikasi yakni hadirnya beragam media yang menggabungkan teknologi komunikasi baru dan teknologi komunikasi massa tradisional. Pada dataran praktis maupun teoritis, fenomena yang sering disebut sebagai konvergensi media ini memunculkan beberapa konsekuensi penting. Di ranah praktis, konvergensi media bukan saja memperkaya informasi yang disajikan, melainkan juga memberi pilihan kepada khalayak untuk memilih informasi yang sesuai dengan selera mereka. Tidak kalah serius, konvergensi media memberikan kesempatan baru yang radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi baik yang bersifat visual, audio, data dan sebagainya (Preston: 2001).&lt;br /&gt;Fenomena jurnalisme online sekarang ini menjadi contoh menarik. Khalayak pengakses media konvergen alias ”pembaca” tinggal meng-click informasi yang diinginkan di komputer yang sudah dilengkapi dengan aplikasi internet untuk mengetahui informasi yang dikehendaki dan sejenak kemudian informasi itupun muncul. Alhasil, aplikasi teknologi komunikasi terbukti mampu mem-by pass jalur transportasi pengiriman informasi media kepada khalayaknya. Di sisi lain, jurnalisme online juga memampukan wartawan untuk terus-menerus meng-up date informasi yang mereka tampilkan seiring dengan temuan-temuan baru di lapangan. Dalam konteks ini, konsekuensi lanjutnya adalah berkurangnya fungsi editor dari sebuah lembaga pers karena wartawan relatif mempunyai kebebasan untuk segera meng-up load informasi baru tanpa terkendala lagi oleh mekanisme kerja lembaga pers konvensional yang relatif panjang.&lt;br /&gt;Pada aras teoritik, dengan munculnya media konvergen maka sejumlah pengertian mendasar tentang komunikasi massa tradisional terasa perlu diperdebatkan kembali. Konvergensi menimbulkan perubahan signifikan dalam ciri-ciri komunikasi massa tradisional atau konvensional. Media konvergen memadukan ciri-ciri komunikasi massa dan komunikasi antarpribadi dalam satu media sekaligus. Karenanya, terjadi apa yang disebut sebagai demasivikasi (demasssification), yakni kondisi di mana ciri utama media massa yang menyebarkan informasi secara masif menjadi lenyap. Arus informasi yang berlangsung menjadi makin personal, karena tiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih informasi yang mereka butuhkan.&lt;br /&gt;Dalam catatan McMillan (2004), teknologi komunikasi baru memungkinkan sebuah media memfasilitasi komunikasi interpersonal yang termediasi. Dahulu ketika internet muncul di penghujung abad ke-21, pengguna internet dan masyarakat luas masih mengidentikkannya sebagai ”alat” semata. Berbeda halnya sekarang, internet menjadi ”media” tersendiri yang bahkan mempunyai kemampuan interaktif. Sifat interactivity dari penggunaan media konvergen telah melampaui kemampuan potensi umpan balik (feedback), karena seorang khalayak pengakses media konvergen secara langsung memberikan umpan balik atas pesan-pesan yang disampaikan. Karakteristik komunikasi massa tradisional di mana umpan baliknya tertunda menjadi lenyap karena kemampuan interaktif media konvergen. Oleh karenanya, diperlukan pendekatan baru di dalam melihat fenomena komunikasi massa. Disebabkan karena sifat interactivity media komunikasi baru, maka pokok-pokok pendekatan linear (SMCRE = source à message à channel à receiver à effect/feedback) komunikasi massa terasa kurang relevan lagi untuk media konvergen.&lt;br /&gt;Dalam konteks yang lebih luas, konvergensi media sesungguhnya bukan saja memperlihatkan perkembangan teknologi yang kian cepat. Konvergensi mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, gaya hidup dan khalayak. Singkatnya, konvergensi mengubah pola-pola hubungan produksi dan konsumsi, yang penggunaannya berdampak serius pada berbagai bidang seperti ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan. Di negara maju semacam Amerika sendiri terdapat tren menurunnya pelanggan media cetak dan naiknya pelanggan internet. Bahkan diramalkan bahwa dalam beberapa dekade mendatang di negara tersebut masyarakat akan meninggalkan media massa tradisional dan beralih ke media konvergen. Jika tren-tren seperti itu merebak ke berbagai negara, bukan tidak mungkin suatu saat nanti peran pers online akan menggantikan peran pers tradisional. Konvergensi memberikan kesempatan baru kepada publik untuk memperluas pilihan akses media sesuai selera mereka. Dari sisi ekonomi media, konvergensi berarti peluang-peluang profesi baru di dunia industri komunikasi.&lt;br /&gt;Tidak kalah pentingnya di dalam mempersiapkan sumber daya yang mampu merespon kebutuhan pasar ke depan adalah sektor pendidikan. Pendidikan sekarang harus mampu merespon tantangan perubahan yang salah satunya diakibatkan oleh merebaknya media konvergen. Terutama untuk jenjang pendidikan tinggi, diperlukan bukan saja kurikulum yang merangkum pelbagai aspek teknis mekanis teknologi komunikasi baru (ICT); melainkan juga perlu ditanamkan kaidah-kaidah profesional sehingga pada saatnya nanti para lulusan dapat berkarya di masyarakat secara etis dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regulasi Konvergensi&lt;br /&gt;Sifat alamiah perkembangan teknologi selalu saja mempunyai dua sisi, positif dan negatif. Di samping optimalisasi sisi positif, antisipasi terhadap sisi negatif konvergensi nampaknya perlu dikedepankan sehingga konvergensi teknologi mampu membawa kemaslahatan bersama. Pada aras politik ini diperlukan regulasi yang memadai agar khalayak terlindungi dari dampak buruk konvergensi media. Regulasi menjaga konsekuensi logis dari permainan simbol budaya yang ditampilkan oleh media konvergen. Tujuannya jelas, yakni agar tidak terjadi tabrakan kepentingan yang menjadikan salah satu pihak menjadi dirugikan. Terutama bagi kalangan pengguna atau publik yang memiliki potensi terbesar sebagai pihak yang dirugikan alias menjadi korban dari konvergensi media.&lt;br /&gt;Persoalan pertama regulasi menyangkut seberapa jauh masyarakat mempunyai hak untuk mengakses media konvergen, dan seberapa jauh distribusi media konvergen mampu dijangkau oleh masyarakat. Problem mendasar dari regulasi konvergensi media dalam konteks ini terkait dengan seberapa jauh masyarakat mempunyai akses terhadap media konvergen dan seberapa jauh isi media konvergen dapat dianggap tidak melanggar norma yang berlaku. Kekhawatiran sebagian kalangan bahwa isi media konvergen pada bagian tertentu akan merusak moral generasi muda merupakan salah satu poin penting yang harus dipikirkan oleh para pelaku media konvergen.&lt;br /&gt;Beberapa pertanyaan pokok yang harus dijawab terkait dengan isu regulasi media konvergen adalah; pertama, siapa yang paling berkewajiban untuk membuat format kebijakan yang mampu mengakomodasi seluruh kepentingan aktor-aktor yang telibat dalam konvergensi dan kedua adalah bagaimana isi regulasi sendiri mampu menjawab tantangan dunia konvergen yang tak terbendung. Pertanyaan terakhir ini menarik, karena perkembangan teknologi umumnya selalu mendahului regulasi. Dengan kata lain, regulasi hampir selalu ketinggalan jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi komunikasi.&lt;br /&gt;Dalam hal penciptaan regulasi konvergensi media, institusi yang paling berwenang membuat regulasi adalah pemerintah atau negara. Cara pandang demikian dapat dipahami jika dilihat dari fungsi negara sebagai regulatory agent di dalam menjaga hubungan antara pasar dan masyarakat. Di satu sisi negara memegang kedaulatan publik dan di sisi lain negara mempunyai apparatus yang berfungsi menjaga efektif tidaknya sebuah regulasi. Gambaran ideal dari hubungan tiga aktor konvergensi (negara, pasar, masyarakat) ini mestinya berlangsung secara harmonis dan seimbang. Jangan sampai terdapat salah satu pihak yang mendominasi yang lain, misalnya media konvergen cenderung mendominasi masyarakat, sementara masyarakat tidak punya pilihan lain selain menerima apa adanya tampilan-tampilan yang ada pada media.&lt;br /&gt;Membangun sebuah regulasi yang komprehensif dan berdimensi jangka panjang tentu saja bukan hal yang mudah. Bahkan dalam konteks perkembangan teknologi komunikasi yang makin cepat, regulasi yang berdimensi jangka panjang nampaknya hampir menjadi satu hal yang mustahil. Adagium tentang regulasi yang selalu ketinggalan dibandingkan perkembangan teknologi mesti disikapi secara bijak. Pasalnya, sebuah bangunan kebijakan selalu mengandung celah multiinterpretasi sehingga bisa saja hal itu dimanfaatkan untuk menampilkan citraan media yang luput dari tujuan kebijakan. Di sisi lain, pada saat sebuah kebijakan disahkan dan dicoba diimplementasikan, boleh jadi telah muncul varian teknologi baru yang tak terjangkau oleh regulasi tersebut. Ini tidak berarti bahwa pembuatan regulasi tak harus dilakukan, bagaimanapun regulasi menjadi kebutuhan mendesak agar teknologi komunikasi baru tidak menjadi instrumen degradasi moral atau menjadi alat kelas berkuasa untuk menidurkan kesadaran orang banyak.&lt;br /&gt;Regulasi tetap diperlukan untuk mengawal nilai-nilai kemanusiaan dalam hubungan antarmanusia itu sendiri. Beberapa isu menarik layak direnungkan dalam konteks penyusunan regulasi. Pertama adalah bagaimana pengambil kebijakan mendefinisikan batasan sektor-sektor yang akan dikenai kebijakan, misalnya saja soal hukum yang dapat dijalankan. Kedua bagaimana situasi pasar dan hak cipta diterjemahkan. Wilayah ini menyangkut soal self regulation dan kondisi standarisasi hak cipta. Ketiga, bagaimana soal akses pada jaringan media serta kondisi sistem akses itu sendiri. Persoalan seperti pengaturan decoder TV digital maupun content media menjadi layak kaji dalam hal ini. Keempat, akses pada spektrum frekuensi, kelima mengenai standar jangkauan atau sejauh mana media konvergen dapat dijangkau oleh khalayak serta apakah sebuah akses harus disertai dengan harga yang harus dibayar oleh khalayak. Dan terakhir menyangkut sejauh mana kepentingan khalayak diakomodasi oleh regulasi, misalnya sejauh mana freedom of speech dan kalangan minoritas benar-benar mendapat perlindungan dalam sebuah kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Artikel ini pernah dimuat di harian BERNAS JOGJA edisi Kamis, 5 April 2007.&lt;br /&gt;** Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://abunavis.wordpress.com/2007/12/09/tantangan-masa-depan-konvergensi-media/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7086681458856619876-5164323159404512216?l=reyna-avrilea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/feeds/5164323159404512216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7086681458856619876&amp;postID=5164323159404512216' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/5164323159404512216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/5164323159404512216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/2008/12/tantangan-masa-depan-konvergensi-media.html' title='Tantangan Masa Depan Konvergensi Media'/><author><name>eRniE tHea Euy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13731893135837013176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_uUQzKn5CKZ8/SImosmYQ-zI/AAAAAAAAAAM/E0U_auvuOjM/S220/erni+ma+teh+sep.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7086681458856619876.post-1166827994516510158</id><published>2008-12-22T03:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-22T03:15:09.079-08:00</updated><title type='text'>Sejarah Televisi</title><content type='html'>Pada tahun 1873 seorang operator telegram menemukan bahwa cahaya mempengaruhi resistansi elektris selenium. Ia menyadari itu bisa digunakan untuk mengubah cahaya kedalam arus listrik dengan menggunakan fotosel silenium (selenium photocell)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian piringan metal kecil berputar dengan lubang-lubang didalamnya ditemukan oleh seorang mahasiswa yang bernama Paul Nipkow di Berlin, Jerman pada tahun 1884 dan disebut sebagai cikal bakal lahirnya televisi. Sekitar tahun 1920 John Logie Baird dan Charles Francis Jenkins menggunakan piringan karya Paul Nipkow untuk menciptakan suatu sistem dalam penangkapan gambar, transmisi, serta penerimaannya. Mereka membuat seluruh sistem televisi ini berdasarkan sistem gerakan mekanik, baik dalam penyiaran maupun penerimaannya. Pada waktu itu belum ditemukan komponen listrik tabung hampa (Cathode Ray Tube)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi elektronik agak tersendat perkembangannya pada tahun-tahun itu, lebih banyak disebabkan karena televisi mekanik lebih murah dan tahan banting. Bukan itu saja, tetapi juga sangat susah untuk mendapatkan dukungan finansial bagi riset TV elektronik ketika TV mekanik dianggap sudah mampu bekerja dengan sangat baiknya pada masa itu. Sampai akhirnya Vladimir Kosmo Zworykin dan Philo T. Farnsworth berhasil dengan TV elektroniknya. Dengan biaya yang murah dan hasil yang berjalan baik, orang-orang mulai melihat kemungkinan untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vladimir Zworykin, yang merupakan salah satu dari beberapa pakar pada masa itu, mendapat bantuan dari David Sarnoff, Senior Vice President dari RCA (Radio Corporation of America). Sarnoff sudah banyak mencurahkan perhatian pada perkembangan TV mekanik, dan meramalkan TV elektronik akan mempunyai masa depan komersial yang lebih baik. Selain itu, Philo Farnsworth juga berhasil mendapatkan sponsor untuk mendukung idenya dan ikut berkompetisi dengan Vladimir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TV ELEKTRONIK&lt;br /&gt;Baik Farnsworth, maupun Zworykin, bekerja terpisah, dan keduanya berhasil dalam membuat kemajuan bagi TV secara komersial dengan biaya yang sangat terjangkau. Di tahun 1935, keduanya mulai memancarkan siaran dengan menggunakan sistem yang sepenuhnya elektronik. Kompetitor utama mereka adalah Baird Television, yang sudah terlebih dahulu melakukan siaran sejak 1928, dengan menggunakan sistem mekanik seluruhnya. Pada saat itu sangat sedikit orang yang mempunyai televisi, dan yang mereka punyai umumnya berkualitas seadanya. Pada masa itu ukuran layar TV hanya sekitar tiga sampai delapan inchi saja sehingga persaingan mekanik dan elektronik tidak begitu nyata, tetapi kompetisi itu ada disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TV RCA, Tipe TT5 1939, RCA dan Zworykin siap untuk program reguler televisinya, dan mereka mendemonstrasikan secara besar-besaran pada World Fair di New York. Antusias masyarakat yang begitu besar terhadap sistem elektronik ini, menyebabkan the National Television Standards Committee [NTSC], 1941, memutuskan sudah saatnya untuk menstandarisasikan sistem transmisi siaran televisi di Amerika. Lima bulan kemudian, seluruh stasiun televisi Amerika yang berjumlah 22 buah itu, sudah mengkonversikan sistemnya kedalam standard elektronik baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun-tahun pertama, ketika sedang resesi ekonomi dunia, harga satu set televisi sangat mahal. Ketika harganya mulai turun, Amerika terlibat perang dunia ke dua. Setelah perang usai, televisi masuk dalam era emasnya. Sayangnya pada masa itu semua orang hanya dapat menyaksikannya dalam format warna hitam putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TV BERWARNA&lt;br /&gt;Sebenarnya CBS sudah lebih dahulu membangun sistem warnanya beberapa tahun sebelum rivalnya, RCA. Tetapi sistem mereka tidak kompatibel dengan kebanyakan TV hitam putih diseluruh negara. CBS yang sudah mengeluarkan banyak sekali biaya untuk sistem warna mereka harus menyadari kenyataan bahwa pekerjaan mereka berakhir sia-sia. RCA yang belajar dari pengalaman CBS mulai membangun sistem warna menurut formatnya. Mereka dengan cepat membangun sistem warna yang mampu untuk diterima pada sistem warna dan sistem hitam putih. Setelah RCA memamerkan kemampuan sistem mereka, NTSC membakukannya untuk siaran komersial thn 1953.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpuluh tahun kemudian hingga awal milenium baru abad 21 ini, orang sudah biasa berbicara lewat telepon selular digital dan mengirim e-mail lewat jaringan komputer dunia, tetapi teknologi televisi pada intinya tetap sama. Tentu saja ada beberapa perkembangan seperti tata suara stereo dan warna yang lebih baik, tetapi tidak ada suatu lompatan besar yang mampu untuk menggoyang persepsi orang tentang televisi. Tetapi semuanya secara perlahan mulai berubah, televisi secara bertahap sudah memasuki era digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;file:///E:/new%20internet%20file/Sejarah%20Televisi%20%C2%AB%20Everything%20About%20World.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7086681458856619876-1166827994516510158?l=reyna-avrilea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/feeds/1166827994516510158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7086681458856619876&amp;postID=1166827994516510158' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/1166827994516510158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/1166827994516510158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/2008/12/sejarah-televisi.html' title='Sejarah Televisi'/><author><name>eRniE tHea Euy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13731893135837013176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_uUQzKn5CKZ8/SImosmYQ-zI/AAAAAAAAAAM/E0U_auvuOjM/S220/erni+ma+teh+sep.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7086681458856619876.post-743007919174667243</id><published>2008-11-05T21:47:00.000-08:00</published><updated>2008-11-05T21:49:24.413-08:00</updated><title type='text'>internet</title><content type='html'>Internet&lt;br /&gt;Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Visualisasi dari beberapa route pada jaringan Internet&lt;br /&gt;Tekhnologi Internet&lt;br /&gt;Secara harfiah, internet (kependekan daripada perkataan 'interconnected-networking') ialah rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian. Manakala Internet (huruf 'I' besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet. Cara menghubungkan rangkaian dengan kaedah ini dinamakan internetworking.Daftar isi [sembunyikan]&lt;br /&gt;1 Kemunculan Internet&lt;br /&gt;2 Internet pada saat ini&lt;br /&gt;3 Budaya Internet&lt;br /&gt;4 Tata tertib Internet&lt;br /&gt;5 Isu moral dan undang-undang&lt;br /&gt;6 Akses Internet&lt;br /&gt;7 Penggunaan Internet di tempat umum&lt;br /&gt;8 Tokoh Tokoh Internet Dunia&lt;br /&gt;9 Lihat pula&lt;br /&gt;10 Pranala luar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;Kemunculan Internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian pusat yang membentuk Internet diawali pada tahun 1969 sebagai ARPANET, yang dibangun oleh ARPA (United States Department of Defense Advanced Research Projects Agency). Beberapa penyelidikan awal yang disumbang oleh ARPANET termasuk kaedah rangkaian tanpa-pusat (decentralised network), teori queueing, dan kaedah pertukaran paket (packet switching).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1 Januari 1983, ARPANET menukar protokol rangkaian pusatnya, dari NCP ke TCP/IP. Ini merupakan awal dari Internet yang kita kenal hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sekitar 1990-an, Internet telah berkembang dan menyambungkan kebanyakan pengguna jaringan-jaringan komputer yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;Internet pada saat ini&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Representasi grafis dari jaringan WWW (hanya 0.0001% saja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet dijaga oleh perjanjian bi- atau multilateral dan spesifikasi teknikal (protokol yang menerangkan tentang perpindahan data antara rangkaian). Protokol-protokol ini dibentuk berdasarkan perbincangan Internet Engineering Task Force (IETF), yang terbuka kepada umum. Badan ini mengeluarkan dokumen yang dikenali sebagai RFC (Request for Comments). Sebagian dari RFC dijadikan Standar Internet (Internet Standard), oleh Badan Arsitektur Internet (Internet Architecture Board - IAB). Protokol-protokol internet yang sering digunakan adalah seperti, IP, TCP, UDP, DNS, PPP, SLIP, ICMP, POP3, IMAP, SMTP, HTTP, HTTPS, SSH, Telnet, FTP, LDAP, dan SSL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa layanan populer di internet yang menggunakan protokol di atas, ialah email/surat elektronik, Usenet, Newsgroup, perkongsian file (File Sharing), WWW (World Wide Web), Gopher, akses sesi (Session Access), WAIS, finger, IRC, MUD, dan MUSH. Di antara semua ini, email/surat elektronik dan World Wide Web lebih kerap digunakan, dan lebih banyak servis yang dibangun berdasarkannya, seperti milis (Mailing List) dan Weblog. Internet memungkinkan adanya servis terkini (Real-time service), seperti web radio, dan webcast, yang dapat diakses di seluruh dunia. Selain itu melalui internet dimungkinkan untuk berkonikasi secara langsung antara dua pengguna atau lebih melalui program pengirim pesan instan seperti Camfrog, Pidgin (Gaim), Trilian, Kopete, Yahoo! Messenger, MSN Messenger dan Windows Live Messenger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa servis Internet populer yang berdasarkan sistem Tertutup(?)(Proprietary System), adalah seperti IRC, ICQ, AIM, CDDB, dan Gnutella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;Budaya Internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang, telah mewujudkan budaya internet. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari seperti Google, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses internet yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran(decentralization) / pengetahuan (knowledge) informasi dan data secara ekstrim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Internet juga telah mempengaruhi perkembangan ekonomi. Berbagai transaksi jual beli yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan cara tatap muka (dan sebagian sangat kecil melalui pos atau telepon), kini sangat mudah dan sering dilakukan melalui Internet. Transaksi melalui Internet ini dikenal dengan nama e-commerce.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan pemerintahan, Internet juga memicu tumbuhnya transparansi pelaksanaan pemerintahan melalui e-government.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;Tata tertib Internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti halnya sebuah komunitas, Internet juga mempunyai tata tertib tertentu, yang dikenal dengan nama Nettiquette.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;Isu moral dan undang-undang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat kebimbangan masyarakat tentang Internet yang berpuncak pada beberapa bahan kontroversi di dalamnya. Pelanggaran hak cipta, pornografi, pencurian identitas, dan ucapan benci (?) (Hate speech), adalah biasa dan sulit dijaga. Hingga tahun 2007, Indonesia masih belum memiliki Cyberlaw, padahal draft akademis RUU Cyberlaw sudah dibahas sejak tahun 2000 oleh Ditjen Postel dan Deperindag. UU yang masih ada kaitannya dengan teknologi informasi dan telekomunikasi adalah UU Telekomunikasi tahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet juga disalahkan oleh sebagian orang karena dianggap menjadi sebab kematian. Brandon Vedas meninggal dunia akibat pemakaian narkotik yang melampaui batas dengan teman-teman chatting IRCnya memberi semangat. Shawn Woolley bunuh diri karena ketagihan dengan permainan online, Everquest. Brandes ditikam bunuh, dan dimakan oleh Armin Meiwes setelah menjawab iklan dalam internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;Akses Internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara dengan akses internet yang terbaik termasuk Korea Selatan (50% daripada penduduknya mempunyai akses jalurlebar - Broadband), dan Swedia. Terdapat dua bentuk akses internet yang umum, yaitu dial-up, dan jalurlebar. Di Indonesia, seperti negara berkembang dimana akses Internet dan penetrasi PC masih juga rendahlainnya sekitar 42% dari akses Internet melalui fasilitas Public Internet aksss seperti warnet , cybercafe, hotspot dll. Tempat umum lainnya yang sering dipakai untuk akses internet adalah di kampus dan dikantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping menggunakan PC (Personal Computer), kita juga bisa mengakses Internet melalui Handphone (HP) menggunakan Fasilitas yang disebut GPRS (General Packet Radio Service). GPRS merupakan salah satu standar komunikasi wireless (nirkabel) yang memiliki kecepatan koneksi 115 kbps dan mendukung aplikasi yang lebih luas (grafis dan multimedia). Teknologi GPRS dapat diakses yang mendukung fasilitas tersebut. Pen-setting-an GPRS pada ponsel Tergantung dari operator (Simpati, Indosat, XL, 3) yang digunakan. Biaya akses Internet dihitung melalui besarnya kapasitas (per-kilobite) yang didownload.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;Penggunaan Internet di tempat umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet juga semakin banyak digunakan di tempat umum. Beberapa tempat umum yang menyediakan layanan internet termasuk perpustakaan, dan internet cafe/warnet (juga disebut Cyber Cafe). Terdapat juga tempat awam yang menyediakan pusat akses internet, seperti Internet Kiosk, Public access Terminal, dan Telepon web.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat juga toko-toko yang menyediakan akses wi-fi, seperti Wifi-cafe. Pengguna hanya perlu membawa laptop (notebook), atau PDA, yang mempunyai kemampuan wifi untuk mendapatkan akses internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting]&lt;br /&gt;Tokoh Tokoh Internet Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Internet&lt;br /&gt;Timothy Barners Lee pencipta WWW (World Wide Web)&lt;br /&gt;Roy Tomlinson pencipta @ (at) pada alamat e-mail&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7086681458856619876-743007919174667243?l=reyna-avrilea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/feeds/743007919174667243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7086681458856619876&amp;postID=743007919174667243' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/743007919174667243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/743007919174667243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/2008/11/internet.html' title='internet'/><author><name>eRniE tHea Euy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13731893135837013176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_uUQzKn5CKZ8/SImosmYQ-zI/AAAAAAAAAAM/E0U_auvuOjM/S220/erni+ma+teh+sep.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7086681458856619876.post-509810683017840834</id><published>2008-11-05T21:24:00.000-08:00</published><updated>2008-11-05T21:27:33.482-08:00</updated><title type='text'>serat optik</title><content type='html'>Pada dasarnya, sistem komunikasi serat optik terdiri dari tiga bagian: pemancar (transmitter), saluran komunikasi, dan penerima (receiver). Transmitter (yang terdiri dari dioda laser dan LED) berfungsi mengubah sinyal elektronik ke dalam bentuk gelombang cahaya dan memasukkannya ke dalam serat optik. Dibandingkan kabel tembaga, sebatang kabel serat optik memiliki bandwidth lebih banyak (sampai dengan 1 Terabit/detik atau 1012 bit/detik), material loss yang rendah, tidak menghasilkan electromagnetik noise, dan juga tidak terpengaruhi oleh gelombang elektromagnetik dari luar (electromagnetic interference). Dilihat dari segi bandwidth, serat optik jelas jauh lebih unggul daripada kabel tembaga atau nirkabel/satelit. Penerima (photodetector) berfungsi mengubah sinyal cahaya kembali ke dalam bentuk elektronik. Alat-alat opto-elektronik yang dipakai dalam sistem serat optik sebagian besar terbuat daripada bahan semikonduktor, khususnya senyawa yang terbentuk dari unsur-unsur golongan III (seperti Ga) dan golongan V (seperti As). Senyawa-senyawa yang terbentuk dari elemen-elemen golongan III-V mempunyai bandgap langsung yang memudahkan transisi elektron dari band konduksi ke band valensi dengan menghasilkan photon pada prosesnya. Akhir-akhir ini, kemajuan dalam ilmu nanoteknologi, khususnya di bidang eksperimen, telah memungkinkan para ilmuwan untuk membuat struktur dalam skala nanometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pembuatan semikonduktor kristal yang bermutu tinggi, beberapa hal yang harus dipenuhi adalah: tersedianya single kristal tanpa cacat, kemampuan untuk mengontrol ketebalan lapisan tipis (film) sampai dengan skala nanometer, dan kemampuan untuk dapat membentuk satu jenis bahan (contohnya GaN) di atas jenis bahan lainnya (contohnya AlN) dengan komposisi yang akurat serta transisi yang mulus dalam skala atom (atomically-abrupt interface). Saat ini teknologi yang umumnya dipakai untuk pembuatan discrete devices yang memerlukan kontrol dalam skala nanometer (seperti dioda laser) adalah Metal-Organic Vapor Phase Deposition (MOVPE). Pada intinya, unsur-unsur golongan III (seperti Al, Ga, In) dalam bentuk senyawa alkil (trimetil-aluminium/TMAl, TMGa, TMIn) yang dibawa oleh gas hydrogen dan elemen-elemen golongan V dalam bentuk hydride (gas-gas paling berbahaya seperti AsH3) dimasukkan ke dalam silinder quartz di dalam reaktor MOVPE dengan aliran yang dikontrol oleh komputer. Pada suhu sekitar 6000° - 8000° C, reaksi kimia terjadi diatas semikonduktor substrate/film sehingga lapisan semikonduktor, dengan material dan komposisi yang ditentukan oleh jenis dan aliran gas, terbentuk diatas substrate. Jenis reaksi adalah irreversible pyrolysis yang melibatkan serentetan reaksi-reaksi intermediate sampai pada akhirnya senyawa akhir terbentuk. Contohnya, untuk pembentukan GaAs film diatas GaAs substrate, reaksi dasarnya adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ga(CH3)3(l) + AsH3(g) + H 2(g) -&gt; GaAs(s) + 3(CH4)(g) + H2(g) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sistem serat optik, jenis material yang biasa dingunakan adalah In1-xGaxAsyP1-y yang dibentuk diatas InP film karena material ini dapat menghasilkan gelombang cahaya 1.55-?m karena pada gelombang ini serat silika mempunyai loss yang paling rendah. Dengan mengatur aliran gas ke dalam reaktor, komposisi x dan y dapat diatur secara akurat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam skala nanometer (&lt;10nm), efek-efek quantum mekanika menjadi dominan, sehingga memungkinkan kita untuk membuat alat-alat elektronik yang lebih superior dalam segi harga dan kegunaan. Sekarang, para ilmuwan sedang berlomba-lomba untuk membuat alat quantum yang terkecil dengan memperkecil jumlah dimensi dari dua dimensi (quantum well) menjadi satu (quantum wire) dan nol dimensi (quantum dot). Dilihat dari banyaknya penemuan-penemuan dasawarsa terakhir (carbon nanotubes, photonic bandgap materials, biophotonics, dsb), potensi riset di bidang nanoteknologi untuk meningkatkan mutu aplikasi yang telah ada serta melahirkan jenis aplikasi-aplikasi baru masih terbuka luas. Di bidang komunikasi, riset nanoteknologi dibidang fiber optik telah didorong oleh naiknya kebutuhan akan bandwidth oleh karena informasi teknologi yang dipelopori oleh internet. Oleh karena itu, bandwidth sendiri sering diumpakan seperti obat-obat terlarang: semakin sering kita memakainya semakin kecanduan kita jadinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; http://www.arsip.banten.go.id/?link=dtl&amp;id=133&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7086681458856619876-509810683017840834?l=reyna-avrilea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/feeds/509810683017840834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7086681458856619876&amp;postID=509810683017840834' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/509810683017840834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/509810683017840834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/2008/11/serat-optik.html' title='serat optik'/><author><name>eRniE tHea Euy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13731893135837013176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_uUQzKn5CKZ8/SImosmYQ-zI/AAAAAAAAAAM/E0U_auvuOjM/S220/erni+ma+teh+sep.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7086681458856619876.post-8904969252474699221</id><published>2008-11-05T20:28:00.000-08:00</published><updated>2008-11-05T20:29:18.299-08:00</updated><title type='text'>tranportasi informasi melalui kebel serat optik</title><content type='html'>Transportasi melalui kabel serat optik&lt;br /&gt;Kombinasi Serat Optik dan Layanan SMS &lt;br /&gt;HAMPIR tiga bulan setelah gelombang tsunami menghancurkan wilayah pantai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, meninggalkan reruntuhan dan debu di mana-mana. Provinsi NAD ini tidak hanya menjadi tempat ribuan orang tewas dan secara masif terkubur, tetapi juga menjadi tempat para pengungsi yang diistilahkan sebagai internally displaced people perlu bangkit kembali memulihkan kondisi mereka memasuki era rekonstruksi dan rehabilitasi pascatsunami.&lt;br /&gt;MENGHADAPI berbagai persoalan yang akan dihadapi pada proses selanjutnya, baik pemerintah maupun LSM berpikir keras agar pekerjaan kemanusiaan mereka di Aceh memasuki tahapan ini bisa mencapai kapasitasnya yang maksimal. Dan sebelum memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi ini, sebuah prasyarat kritis menjadi pertimbangan penting sebelum memulai pekerjaan kemanusiaan di Aceh.&lt;br /&gt;Sebuah operasi kemanusiaan memerlukan sebuah pemikiran tentang siapa sedang mengerjakan apa, bagaimana membantu para internally displaced people (IDP) ini, jenis pasokan apa yang perlu didistribusikan, dan bagaimana bantuan ini harus menuju. Tanpa bisa mengidentifikasi semua ini, bukan saja akan menyebabkan terjadinya kekacauan dan kemungkinan terjadi tumpang tindih dan menyebabkan munculnya celah- celah, tetapi juga bisa berarti bahwa akan ada berbagai badan kemanusiaan yang bekerja dengan maksud yang sama padahal masih ada bidang-bidang yang dibutuhkan masih tidak terjamah sama sekali.&lt;br /&gt;Meski demikian, dengan sumber-sumber informasi yang tidak tersedia dan bekerja sebagai relawan di wilayah konflik militer, mengirim orang- orang pulang pergi untuk mengumpulkan data menjadi sebuah pekerjaan yang melelahkan dan sering kali menjadi mustahil. Persoalan pun menjadi bertambah buruk ketika jalan-jalan dan berbagai jembatan yang menghubungkan antarkota di Aceh belum sepenuhnya diperbaiki sehingga menihilkan pilihan untuk mengirimkan relawan untuk mengumpulkan data lapangan memanfaatkan transportasi darat. Satu-satunya jalan yang memungkinkan adalah menggunakan transportasi udara.&lt;br /&gt;Namun, pada kenyataannya, persoalan-persoalan ini ternyata terus berputar-putar tanpa ujung yang jelas, dan meyakinkan kita bahwa sesuatu harus dilakukan untuk mempermudah operasi kemanusiaan di tanah Aceh ini.&lt;br /&gt;MENGHADAPI persoalan ini kita menyadari betapa pentingnya peranan teknologi informasi untuk mengatasi hambatan fisik seperti yang dijelaskan di atas. Dengan menggelar berbagai perangkat teknologi informasi, baik itu berupa koneksi nirkabel, komputer, dan berbagai perangkat lainnya di berbagai kamp IDP yang tersebar, para relawan yang mengumpulkan data tidak perlu mondar-mandir ke kantor untuk menyerahkan data-data yang dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui teknologi komunikasi informasi, mereka berada pada satu tempat pengumpulan data dan bekerja secara nyaman di tempat-tempat yang memiliki akses internet. Tanpa tersedianya fasilitas-fasilitas teknologi seperti ini, upaya kemanusiaan yang sekarang berlangsung di Aceh mungkin tidak akan menjadi efektif seperti yang kita saksikan sekarang.&lt;br /&gt;Sebagai tambahan untuk mengimplementasikan upaya bantuan kemanusiaan berbasis teknologi informasi, Pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk memasukkan teknologi komunikasi informasi ke dalam perencanaan komprehensinya untuk membangun kembali Provinsi NAD. Walaupun teknologi informasi menjadi sangat berguna pada masa darurat sebulan pertama setelah tsunami, ada banyak orang kemungkinan akan bertanya intensitas penggunaan infrastruktur teknologi ke dalam perencanaan tersebut, akan berfungsi secara maksimal dan efisien seperti pada masa darurat.&lt;br /&gt;Ada keraguan kalau penduduk Aceh dengan tingkat pendidikan yang ada dan kegiatan ekonomi pascatsunami, ada yang beranggapan bahwa aplikasi penggunaan teknologi informasi tidak akan banyak manfaatnya sehingga belum tentu investasi peralatan teknologi informasi dalam jumlah yang besar donasi berbagai pihak akan siap memasuki proses rehabilitasi dan rekonstruksi.&lt;br /&gt;Memang bagi sebagian orang, fitur-fitur teknologi yang akan digelar di seluruh wilayah Aceh ini tidak akan banyak bermanfaat, terutama ketika kita menyadari bahwa investasi teknologi informasi melalui donasi tersebut bernilai jutaan dollar AS. Meski demikian, perlu dipertimbangkan bahwa sebuah perencanaan komprehensif artinya juga menjadi sebuah perencanaan permanen di mana akan muncul berbagai fitur yang akan mendukung sebuah komunitas yang ideal pascatsunami.&lt;br /&gt;Fitur-fitur ini, lengkap dengan berbagai peraturan yang berlaku untuk wilayahnya, seperti perumahan, wilayah perdagangan, dan industri, perlu membangun jalan, sistem saluran, gedung-gedung pemerintahan, tempat parkir, transportasi massa, sekolah, dan bahkan juga menyediakan tempat-tempat terbuka untuk pembangunan masa depan. Dan teknologi informasi menduduki posisi yang sama pentingnya dengan berbagai prasarana ini sehingga kita pun beranggapan bahwa kalau memang teknologi komunikasi informasi ini menjadi sesuatu yang praktis sehingga bisa dimasukkan ke dalam perencanaan komprehensif, betapa mahal biaya yang dikandungnya, kenapa tidak digelar untuk dimanfaatkan potensinya secara penuh?&lt;br /&gt;MEMASUKKAN teknologi informasi ke dalam perencanaan komprehensif berarti mempercepat proses rekonstruksi, memperpendek waktu pelaksanaan dibandingkan dengan yang direncanakan. Melalui teknologi informasi, cara berkomunikasi yang efektif seperti melalui e-mail secara langsung dan memanfaatkan sistem jaringan nirkabel dari tempat orang-orang bekerja, memungkinkan mereka untuk bekerja secara efisien dan mengakses berbagai sumber di dunia yang dibutuhkan untuk upaya rekonstruksi tersebut.&lt;br /&gt;Selain itu, kemungkinan lain yang disediakan oleh teknologi informasi adalah mengurangi biaya operasional, termasuk di antaranya biaya bepergian yang dilakukan oleh para pekerja ke media center terdekat agar mereka bisa menyelesaikan pekerjaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan penggelaran perangkat nirkabel di Aceh, infrastruktur teknologi komunikasi informasi yang akan digelar adalah rencana pemasangan jaringan serat optik yang akan terhubungkan dengan gateway serat optik internasional SEA-ME-WE 3 di Medan yang langsung terkoneksi ke Lhok Seumawe, Banda Aceh, Calang, dan sampai ke kota pantai Meulaboh. Jaringan SEA-ME-WE 3 sendiri sekarang ini terhubungkan dari Australia sampai daratan Eropa.&lt;br /&gt;Daripada memasang sistem serat optik teresterial (menggunakan kabel darat), sistem serat optik bawah laut ini menjadi solusi terbaik untuk menghindari terjadinya perselisihan hak milik tanah yang dilalui kabel darat di masa depan.&lt;br /&gt;DARI berbagai pembicaraan dengan banyak pihak, jelas bahwa informasi yang dikumpulkan di daerah pascabencana tsunami menjadi sangat penting sebagai landasan untuk mengambil tindakan. Dan pada proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini berbagai informasi dibutuhkan secara cepat, tepat, dan akurat. Tidak tersedianya data yang akurat menjadi salah satu kendala yang cukup krusial dan dirasakan semua pihak pada masa darurat selama tiga bulan terakhir ini.&lt;br /&gt;Dengan demikian, keterlibatan semua pihak juga ikut menentukan keberhasilan untuk memasuki dan menyelesaikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini. Fasilitas telekomunikasi dan informasi di seluruh wilayah bencana tsunami sekarang masih terbatas, untuk menggelar sistem jaringan baru jelas akan menambah biaya tersendiri. Belum lagi masalah fungsi kontrol atas distribusi bantuan yang mengalir dari berbagai pihak di dalam dan luar negeri.&lt;br /&gt;Salah satu yang ditawarkan relawan Tim Airputih untuk menyediakan layanan informasi tersebut adalah komunikasi berbasis layanan pesan singkat (SMS) dan didukung oleh seluruh operator GSM.&lt;br /&gt;Layanan SMS Premium ini akan menggunakan kode akses 9731, tetapi tidak dikenai biaya premium. Artinya, setiap informasi yang dikirimkan ke nomor ini hanya akan dikenai biaya pengiriman SMS biasa sebesar Rp 250-Rp 350, bukan biaya premium pada umumnya yang biasanya Rp 1.000-Rp 2.000.&lt;br /&gt;Melalui layanan SMS ini, pemerintah, lembaga-lembaga yang terlibat dalam penanganan bencana di Aceh, maupun masyarakat dapat saling berbagi informasi mengenai berbagai hal, seperti kondisi di kamp IDP, kebutuhan logistik, sampai informasi-informasi berupa penyelewengan penyaluran bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protus Tanuhandaru Lulusan University of California Jurusan Electrical Engineering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edwardo Rusfid Ketua Yayasan Airput &lt;br /&gt;http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0503/28/tekno/1645391.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7086681458856619876-8904969252474699221?l=reyna-avrilea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/feeds/8904969252474699221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7086681458856619876&amp;postID=8904969252474699221' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/8904969252474699221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/8904969252474699221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/2008/11/tranportasi-informasi-melalui-kebel.html' title='tranportasi informasi melalui kebel serat optik'/><author><name>eRniE tHea Euy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13731893135837013176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_uUQzKn5CKZ8/SImosmYQ-zI/AAAAAAAAAAM/E0U_auvuOjM/S220/erni+ma+teh+sep.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7086681458856619876.post-4111033372931111999</id><published>2008-11-05T20:02:00.000-08:00</published><updated>2008-11-05T20:03:28.001-08:00</updated><title type='text'>budaya dan konsep tekhnologi</title><content type='html'>Budaya dan konsep tekhnologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekhnologi dalam refleksi budaya&lt;br /&gt;Oleh : Alif Lukmanul Hakim*&lt;br /&gt;Teknologi tidak lagi merupakan sesuatu di luar manusia, melainkan menjadi substansinya. Teknologi tidak lagi berhadapan dengan manusia, melainkan terintegrasi dengannya, dan bahkan secara bertahap menelannya. Bukan masyarakat manusiawi yang kita hadapi melainkan masyarakat teknologis.(Soerjanto Poespowardojo. 1993. Strategi Kebudayaan. Gramedia Jakarta)&lt;br /&gt;Orde Teknologi&lt;br /&gt;Kenyataan kehidupan kita di Abad ke-21 ini makin menunjukkan signifikansi teknologi sebagai salah satu hasil atau produk budaya yang mengagumkan sekaligus “memprihatinkan”. Hal ini menjadi kontradiksi internal dalam aras perkembangan teknologi yang tak dapat kita hindari. Betapa tidak!! Penggunaan dan pemanfaatan teknologi telah membawa kemajuan dalam aktivitas kehidupan manusia, namun di sisi lain memunculkan masalah yang pelik dan rumit bagi keberadaan teknologi dalam kehidupan manusia itu sendiri. Teknologi telah mengalami metamorfosis atau bahkan perubahan fungsi dan kedudukan dalam dinamika kehidupan manusia.&lt;br /&gt;Pada awalnya teknologi berkedudukan dan berfungsi sebagai sarana signifikan bagi kemajuan kehidupan manusia – sistem peralatan untuk kepentingan manusia dalam terminologi Soerjanto Poespowardojo — namun dalam perkembangannya cenderung berubah menjadi kekuatan yang mengatur bahkan merusak tingkah laku dan tindakan manusia dalam kehidupannya. Kita dapat merasakan bahkan melihat betapa kehidupan – kebudayaan – seakan tertinggal dari kemajuan teknologi yang begitu cepat dan pesatnya. Saat ini kehidupan kita berada dalam bayang-bayang ancaman kebinasaan oleh kemajuan teknologi yang telah kita kembangkan sendiri. Perlombaan dalam mencipatakan bom nuklir dan alat penghancur massal lainnya menjadi bukti bahwa manusia telah lepas pengawasan terhadap teknologi yang diciptakan dan dikembangkannya sendiri.&lt;br /&gt;Dalam konteks modernisasi Djuretna Adi Imam Muhni menegaskan bahwa teknik – teknologi – memang dapat menjunjung martabat manusia menjadi tuan besar, namun hendaknya jangan dilupakan bahwa teknik juga dapat membuat manusia menjadi budak. Kita juga dapat menelaah sifat-sifat khas dari teknik, yang pada dasarnya bersifat kaku atau tidak fleksibel dan bersifat langsung, mekanis serta absolut atau mutlak. Manusia hanya dapat menerima atau menolak keberadaannya. Dapat dibenarkan kiranya bila dikatakan bahwa dengan teknik atau teknologi manusia telah menciptaka suatu “agama” baru, yaitu suatu penghambaan penuh pada – dalam terminologi Djuretna Adi Imam Muhni seorang pakar Filsafat Indonesia – orde rasional dan teknis, yang ditaati secara “given” dan “taken for granted”. Kita tak dapat menolak, betapa kita begitu di setir atau dibelenggu oleh teknologi. Kita tidur bukan lagi hanya karena kita mengantuk, melainkan karena jam sudah menunjukkan waktu untuk tidur. Manusia dengan segala kelebihannya telah tunduk kepada sang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi Budaya terhadap teknologi&lt;br /&gt;Bila kita mencoba merumuskan pengertian kebudayaan secara luas, tentu kita akan sampai pada pemahaman bahwa kebudayaan adalah apa saja yang dipikirkan dan dilakukan atau dikerjakan oleh manusia termasuk segala peralatan yang digunakannya, maka teknologi adalah anak kandung dari kebudayaan, di samping perangkat budaya yang lain, seperti ilmu, bahasa, seni sistem norma atau nilai, arsitektur, pertanian dan sebagainya. Teknologi sering dikaitkan dengan ilmu pengetahuan, karena pada dasarnya teknologi merupakan aplikasi atau penerapan dari ilmu pengetahuan. Atas dasar inilah teknologi dapat berkembang, yang tentunya harus didukung dengan sikap-sikap budaya yang mampu menjadi penyeimbang dalam kemajuan teknologi.&lt;br /&gt;Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat pesat, namun dampaknya terhadap perubahan sosial pun sangatlah besar, dan karena ritme atau tempo perubahannya sangat cepat dan tinggi, kita tidak diberi cukup waktu untuk melakukan adaptasi yang diperlukan untuk mengimbanginya seperti mengubah sikap-sikap mental dan hidup, hubungan manusiawi antara teknologi dan masyarakat, struktur politik, ekonomi, dan juga hubungan antara negara atau bangsa yang satu dengan lainnya dalam bingkai kemajuan teknologi yang manusiawi. Sepertinya, inti persoalan atau kata kunci dari persoalan teknologi ini adalah kenyataan bahwa kemajuan teknologi tidak disertai dengan kemajuan kebudayaan kita – pemahaman dan mindset kita akan kebudayaan yang manusiawi, emansipatoris dan memberikan rahmat serta manfaat yang sebesar-besarnya bagi alam semesta dan kehidupan manusia. Hal ini terkait erat dengan kemampuan kita untuk menemukan formulasi sistem norma dan perangkat nilai yang bertipikal pathfinder (kreatif-fleksibel-dinamis) untuk menembus kebuntuan-kebuntuan problematika teknologi dan kebudayaan yang menghadang serta menemukan dataran-dataran baru yang lebih manusiawi dan sesuai dengan misi kemanusiaan kita sebagai khalifah (wakil Tuhan) di dunia.&lt;br /&gt;Menciptakan Teknologi yang Manusiawi : Mengoptimalkan Peran Serta Manusia&lt;br /&gt;Bagaimana kita mengeliminasi atau memperkecil – sedapat mungkin – dampak negatif yang ditimbulkan oleh teknologi terhadap kebudayaan? Tentunya kita harus memperluas pengetahuan dan daya analisis kita mengenai teknologi. Kita harus lebih kritis terhadap berbagai efek samping atau ekses negatif dari suatu – kemajuan – teknologi. Agar dapat mencapai sikap kritis di atas kita harus meningkatkan kepekaan kita terhadap kelestariaan dan keselamatan lingkungan hidup kita dari beragam akibat negatif dari teknologi dan kemajuannya, serta tak lupa pula kita harus meningkatkan rasa solidaritas akan keselamatan dan kesejahteraan manusia dan masyarakat kita.&lt;br /&gt;Meskipun teknologi telah menjadikan manusia modern teralienasi dari masyarakatnya sendiri, pada dasarnya manusia sendiri yang harus memikul tanggung jawab terhadap setiap pemakaian dan pemanfaatan teknologi dengan segala dampak dan akibatnya. Manusia harus sadar bahwa teknologi tidak dapat memecahkan semua masalah yang dihadapinya. Karena itu teknologi jangan sampai menjadi “agama” baru yang kita sembah sedemikian rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus tegas dalam mengambil sikap bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi hanya merupakan alat bagi manusia. Pengetahuan – menurut Muchtar Buchori – tidak dapat menguasai hakikat manusia, jiwanya, rohnya, bahkan hati nuraninya. Karena itu setiap langkah aplikatif dari teknologi – terlebih dahulu — perlu secara sadar dan kritis kita nilai dampaknya, tidak saja pada kebudayaan, melainkan juga pada lingkungan hidup, pada masyarakat, pada manusia sebagai pribadi dan pada berbagai dimensi kehidupan yang lain.(Muchtar Buchori. Dalam Y.B. Mangunwijaya, 1985:  .&lt;br /&gt;Last but not least, sangatlah signifikan peran manusia untuk menguasai dan mengendalikan ilmu pengetahuan dan teknologi agar senantiasa melaju dalam jalur lintasan yang seharusnya, yakni dengan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan secara berimbang dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Disinilah diperlukan pengembangan format dan sistem pendidikan baru yang emansipatoris dan berkarakter problem possing education – bila kita merunut pada konsep dan terminologi Paulo Freire; seorang Filsuf yang mencermati problematika pendidikan – agar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat selalu diawasi serta mampu untuk dikendalikan oleh manusia secara sustainable atau berkesinambungan. Semuanya tidak sesederhana yang kita bayangkan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pemerhati Filsafat, Religi dan Budaya. Direktur KOMMPAK. Alumni Pelayaran Kebangsaan V Tahun 2005. Tinggal di Yogyakarta.(dalpeles_story@yahoo.com/08157952385)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7086681458856619876-4111033372931111999?l=reyna-avrilea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/feeds/4111033372931111999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7086681458856619876&amp;postID=4111033372931111999' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/4111033372931111999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/4111033372931111999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/2008/11/budaya-dan-konsep-tekhnologi.html' title='budaya dan konsep tekhnologi'/><author><name>eRniE tHea Euy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13731893135837013176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_uUQzKn5CKZ8/SImosmYQ-zI/AAAAAAAAAAM/E0U_auvuOjM/S220/erni+ma+teh+sep.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7086681458856619876.post-4056648580843377066</id><published>2008-09-22T22:28:00.000-07:00</published><updated>2008-09-22T22:30:12.489-07:00</updated><title type='text'>PT</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAcer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} span.MsoBookTitle 	{mso-style-priority:33; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	font-variant:small-caps; 	letter-spacing:.25pt; 	font-weight:bold;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="MsoBookTitle"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Perkembangan tekhnologi komunikasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Perkembangan tekhnologi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terjadi di Indonesia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saat ini mengalami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;peningkatan yang cukup tajam. Hal ini bisa terlihat dari perilaku masyarakat, dimana mereka seringkali memanfatkan tekhnologi untuk berbagai aktivitas sehari-sehari. Seiring dengan adanya perkembangan tekhnologi yang terjadi, perkembangan tekhnologi komunikasipun seolah tidak ingin ketinggalan untuk terus maju. Tekhnologi komunikasi kian hari selalu menunjukan angka peningkatan yang cukup&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tinggi. Hingga akhirnya sekarang ini kita tidak perlu repot lagi untuk melakukan komunikasi, baik dengan kerabat ataupun teman. Alat komunikasi yang canggih sebagai hasil dari tekhnologi komunikasi telah mewabah ke pelosok dunia hingga pelosok negeri kita, Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Tak bisa dipungkiri perkembangan tekhnologi komunikasi selalu mengalami peningkatan terus-menerus dan secara tidak langsung telah membawa perubahan perilaku dan pemikiran pada masyarakat kita. Dan menurut saya, sebagai mahasiswa komunikasi mempelajari perkembangan tekhnologi komunikasi merupakan suatu hal yang sangat penting, agar kita sebagai mahasiswa komunikasi bisa menjadi lebih peka terhadap perkembangan tekhologi komunkasi yang sedang berkembang di masyarakat. Dan kita juga tidak ketinggalan di bidang tekhnologi khususnya tekhnologi komunikasi. Karena tantangan yang akan dihadapi mahasiswa komunikasi di bidang tekhnologi yang tumbuh cepat tidak bisa kita tolak. Oleh karena itu kita harus dibekali ilmu perkembangan tekhnologi tersebut agar kita tidak mudah terseret begitu saja di tengah derasnya gelombang perkembangan tekhnologi.(R.N)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7086681458856619876-4056648580843377066?l=reyna-avrilea.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/feeds/4056648580843377066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7086681458856619876&amp;postID=4056648580843377066' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/4056648580843377066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7086681458856619876/posts/default/4056648580843377066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reyna-avrilea.blogspot.com/2008/09/pt.html' title='PT'/><author><name>eRniE tHea Euy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13731893135837013176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_uUQzKn5CKZ8/SImosmYQ-zI/AAAAAAAAAAM/E0U_auvuOjM/S220/erni+ma+teh+sep.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
